Thursday, December 17, 2009

MENGENAL DAN MENGGUNAKAN TENAGA KUNDALINI

Siapa saja yang akan mempelajari dan mempraktekkan ilmu tenaga bathin kundalini ini agar mengikuti rambu-rambu berikut ini demi keamanan dalam mempraktekkan latihan. Hal ini penting karena kekuatan kundalini sangat dasyat . Bila penguasaan menjadi sempurna maka kekuatannya dapat digunakan untuk mempercepat atau memperlambat putaran bumi. Bagi anda , kuasailah sedikit saja. Untuk memperbaiki kehidupan. Untuk mengubah diri anda menjadi seorang pemenang; bukan pecundang. Berhati-hatilah saat berlatih. Latihan tanpa bimbingan langsung dari Penulis tidak menjadi tanggung jawab penulis.

Apakah anda sudah siap mendalami ilmu ini ? Bila ya, ucapkanlah tigakali berturut-turut Nyanyian bathin berikut ,begitu setiap anda memulai atau melanjutkan latihan anda:

A – LON – QUA- RA- ME – CHA

Nyanyian ini akan membangunkan potensi gaib yang ada pada diri anda.

APAKAH KEKUATAN DAYA BATHIN KUNDALINI ITU ?
Dengan sederhana dapat dikatakan bahwa kekuatan daya bathin kundalini adalah inti dari sumber pengetahuan pertama yang tercatat yang bernama Buku kehidupan atau Buku Kebenaran .

APA YANG AKAN ANDA DAPATKAN DARI KEKUATAN DAYA BATHIN KUNDALINI ?
Kundalini akan memberitahu anda bagaimana cara mencapai apa yang disebut sebagai Kemustahilan.
Sentuhan emas dari Raja Midas akan menyebabkan kekayaan-kekayaan seketika mengetuk pintu anda. Orang-orang minta supaya anda menerima hadiah mereka. Anda akan mampu membalikkan kejahatan yang ditujukan kepada anda. Unsur-unsur kejadian alam seperti angin, hujan , badai akan berada di bawah kendali anda.Cermin ajaib mata bathin akan membuat anda menjadi melihat dengan jelas masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang.Sehingga ramalan-ramalan anda begitu sempurna. Sangat menggairahkan memindahkan diri dari dimensi waktu yang satu ke yang lain. Perolehlah itu lewat meditasi sempurna.


BERALIH KE MENTAL KUNDALINI

KEGIATAN I :

Duduklah bersila, pejamkan mata, atur nafas sehingga menjadi pelan, semakin lambat dan semakin teratur. Kemudian ikuti langkha-langkah berikut :
Ucapkan kalimat ini tujuh kali berturut-turut : DONI – RECKA- PRO- DUCHE

Bayangkan/khayalkan diri anda duduk di atas sampan kecil sendirian di sebuah samudra yang luas dan tenang. Khayalkan sepersis mungkin, sampai anda dapat mendengar suara riak air yang mengenai sisi luar sampan anda.Setelah khayalan ini sempurna, lakukan langkah berikutnya.

Bayangkan diri anda terangkat perlahan-lahan dari sampan tersebut, naik ke angkasa di antara embun persis seperti anda naik pesawat terbang membelah kabut, bedanya hanya saat ini anda terbang tanpa pesawat.
Beradalah pada kondisi ini selama mungkin anda bisa. Bila anda telah dapat melakukan hal ini secara sempurna setiap saat maka anda telah siap menjadi satelit alam bathin. Tinggal dihidupkan komponen-komponen penerima dan pemancarnya.
Akhirilah perlahan-lahan kondisi no.4 supaya peralahan-lahan kondisi bathin anda pada kesadaran sempurna.

KEGIATAN II :

Supaya anda menjadi mahluk spirit yang semakin sempurna, maka komponen-komponen badan mental anda harus dikembangkan . Komponen itu meliputi fungsi 7 chakra utama yang sangat berperan dalam pemgembangan tenaga bathin. Chakra adalah pusat-pusat energi dalam tubuh yang secara alami tidak terlalu berkembang. Tetapi untuk kemajuan spiritual harus ada kesengajaan untuk mengembangkannya. Berikut ini adalah posisi chakra dalam tubuh manusia berikut penjelasannya dan pengaruh masing-masing terhadap kehidupan.

Setelah dapat melakukan kegiatan I secara sempurna dan otomatis maka tiba saatnya anda melanjutkan kepada kegiatan kedua yakni meningkatkan kreatifitas cakra-cakra dalam tubuh anda. Langkah-langkahnya adalah :

Konsentrasikan perasaan anda pada ruas ke empat dari bawah tulang ekor anda. (cakra ke-1) .Khayalkan ada pusaran berwarna kuning di atas dasar bujursangkar, seperti ujung bawah topan tornado berkabut merah.Arah putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam.


Makin lama pusaran pada langkah 1 makin besar dan kencang sehingga ujung atasnya menyentuh pusaran kedua yang berpusat di bulan sabit putih di belakang alat kelamin anda .( cakra ke-2)
Lanjutkan konsentrsi anda ke belakang pusar, di situ khayalkan ada segi enam berwarna hijau. Dari situlah pusaran itu muncul dan makin lama makin besar sampai diameter 17,5 cm.
Kemudian pusat pusaran naik menuju tempat eliptic di belakng jantung yang berwarna bening.
Pindahkan sekarang konsentrasi anda ke tenggorokan di sana ada lingkaran berwarna kemerahan sebagai pusat vibrasi suara.
pusaran tenaga kemudian diteruskan ke tempat di antara kedua kening anda sebagai tempat mata ketiga.
Gulungkan pusaran ke atas di sekitar ubun-ubun dan keluarkan di situ menuju alam kosmis di sekiar anda.
Bila hal ini telah terasa lanjutkan atas bimbingan orang yang sudah menguasai. Perjalanan anda tak mungkin dilepaskan dari bimbingan untuk 1 tahap berikutnya
Anda dapat meminta bimbingan dari penulis untuk melanjutkan pelajaran anda. Kontak saja melalui 08123625232 atau email : nyomanpurnajaya@yahoo.co.id Jangan biarkan dirimu tidur di sebuah kamar yang kecil dan pengap bila kamu punya kesempatan untuk menempati semua kamar mewah dan besar dari hotelmu.

Sunday, May 10, 2009

Sesie 3 Bipsychology

_________________________________________________________Welcome to Session 3 of the Meditation and Yoga Philosophy ecourse.Before we do meditation, asanas, eat or sleep, we do what's called a"half-bath."That doesn't mean you wash only one side of your body!The half-bath is the yogic way of balancing the body temperature andcalming and refreshing the mind. It works by cooling the body,especially the organs, which usually get heated in daily activity. The half-bath also stimulates what's known as the "dive reflex" (thesame one that enables dolphins and other marine mammals to conserveoxygen when they dive), lowering the heart rate, respiration andblood pressure.It also cools the brain directly through the optic nerves when yousplash water in your eyes, and it strengthens the eyes too.Here's how to do it:* Use cold water, or lukewarm water in cold weather.* First go to the toilet, then pour some cold water over the urinaryorgan.* Then pour water on your arms up to the elbows, and your legs up tothe knees.* Take a mouthful of water, and while holding the water in yourmouth, splash water in your eyes and on your face at least 12 times.It's best to keep your eyes open, so the water hitting the surfacecan directly cool the retina and optic nerve.* Wet the ears and the back of the neck.* Flush the nose with water (but only if your stomach is empty): suckwater into each nostril and spit it out through the mouth. You canswallow the water, but it's better to spit it out. If you can't suckit through to the mouth, blow it out the opposite nostril. If youcan't do that, then blow it out the same nostril.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Now do meditation, asanas, massage and deep relaxation.Remember: it's a matter of practice to be able to concentrate on thefeeling of the mantra. Keep practicing. Every time you realize yourmind has wandered away from the mantra, concentrate on it again - itwill get easier the more you do it.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Biopsychology is the science of the relationship between the glands,hormones and the mind. The glands are the link between the body andmind. They secrete the hormones that affect the way we feel. So theydetermine the emotions, based on signals from the mind. For example,we all know that we feel a fright in the gut. That's because the mindgives the "fright" signal to the adrenal glands at the level of thestomach. It can also work the other way as well: the glands alsoaffect the mind.Here are some examples:* Did you know that when the sex glands develop, we get the sense ofduty and responsibility? That's why children don't have such a goodsense of responsibility. The sex glands also give rationality andintelligence.* The prostate and other glands in the navel area develop around theage of five. That gives the feeling of shyness. Of course you'venoticed that children under five are not ashamed to run around naked.If there's an over-secretion of hormones from this area, it causesmental depression. An undersecretion causes increased fear.* We feel love in the heart through subtle glands in the chest.Normally that love is for our close family and friends, especiallychildren, but it can be expanded to universal love.* The thyroid gland (at the throat) controls the metabolism of thewhole body. It also gives the feeling of self-reliance. Theparathyroids (around the thyroid) cause intellectuality andrationality.* The pituitary gland (in the center of the brain) controls all thelower glands. It's also the seat of the mind. Through it, it'spossible to know everything - past, present and future!* The pineal gland - at the top of the brain - is the master gland.It controls the mind as well as the body. It's this gland that'sactivated when we meditate. The hormone melatonin, which it secretes,gives the feeling of bliss - infinite happiness.Continue your meditation to feel that bliss.

Saturday, May 2, 2009

Session 2 : YOGA POSTURES

Session 2 - Yoga Postures
In Sanskrit, we call yoga postures "asanas". Asana means a "posturegiving physical comfort and mental composure." Yogis in the pastobserved that animals had characteristics that were related to theirposture. In other words, the posture affects the mind.So the main effect of yoga postures is on the mind.That's because they put pressure on the internal glands, and thatbalances the hormones secreted from the glands. It's the hormonesthat affect how we feel. If the hormones are balanced, the emotionswill also be balanced.So yoga postures keep the mind calm and balanced, and prepare it formeditation.They also have many physical benefits: they increase the flexibilityof the spine and joints, massage the internal organs, as well as curemany diseases.Now we'll go through three yoga postures that are very simple andeffective. If you practice them daily, you'll soon see how they keepyour mind calm and relaxed, making it a lot easier to concentrate.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Find a warm, clean room (usually the same one you use for meditation)and lay a blanket on the floor. Make sure there's no draught. Ifyou've eaten in the last hour or so, wait until your stomach is lessfull (2-3 hours after eating).* The first asana is called Yogamudra: Sit cross-legged. Hold yourleft wrist with your right hand behind your back. Slowly loweringyour chin, then your neck, bend down as far as you can go, breathingout as you go down. Stay there for 8 seconds with your breath heldout then rise up, breathing in. Practice eight times.* Now the Cobra: Lie down on your stomach. Put your hands facing downon the floor beside your ears. Supporting your weight on your palms,push up and raise the chest, looking up towards the ceiling. Breathein while rising, and hold your breath in that position for 8 seconds.Come down to original position while breathing out. Practice eighttimes.* Finally the Long Salutation: Kneel down with your buttocks restingon your heels and your toes pointing forward. With your palmstogether, extend your arms up next to your ears. Slowly bring yourarms and head down as one, first bending your neck then the wholeupper body, until your fingers hit the floor, keeping your buttockson your heels all the time. Now stretch out along with your foreheadand nose resting on the floor. Breathe out as you go down and staythere with your breath held out for 8 seconds. Then rise up,breathing in. Practice eight times.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
During asanas, a particular type of oil is secreted from thesebaceous glands out of the pores of the skin. This is beneficial tothe skin, so after asanas we do a skin massage to rub it back in.The skin massage increases the beauty and glow of the skin. It alsorelaxes the nerves, and increases the blood and lymph flow. It's nota deep muscle massage. It's a light going-over of the skin, as wellas some extra attention to the lymph glands - under the chin andaround the throat, under the armpits, in the groin, and behind theknee.* First rub your palms together a few times to warm them up. Start atthe head and face and work down. Rub your hands directly over thesurface of the skin, and when you get down to your feet, payparticular attention to the soles. That will indirectly give yourinternal organs a good massage as well.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Now we'll finish this session with "deep relaxation."It gives the body a chance to assimilate the positive energy of theasanas. It also relieves stress, lowers blood pressure, and decreasesthe need for sleep.* Using the same blanket as for asanas, lie on your back with yourarms by your side, and make sure that your breathing is calm andrelaxed. Now go through your whole body, starting at your feet,consciously making sure that each part is completely relaxed - withno muscular tension at all. Go from the feet up the legs, consciouslychecking each part, into the groin area, into the abdomen (alsofeeling that your internal organs are relaxed), into the chest andshoulders, from the fingers and hands up the arms, then into the neckand up into the face, relaxing the facial muscles, including theeyes, and finally to the top of the head, feeling your brain is alsorelaxed. Check once more that your breathing is calm and relaxed, andimagine you're lying in the most soothing place you can think of: itcould be floating on top of the sea, suspended in space, on top of amountain - wherever you like. Now stay like that, fully relaxed, fora few more minutes.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL; BENARKAH ?

Oleh : Drs. I Nyoman Purnajaya,M.Pd

Akhir-akhir ini istilah Sekolah Bertaraf Internasional semakin sering kita dengar baik dari kalangan dunia pendidikan maupun di masyarakat. Bahkan istilah itu cenderung berubah menjadi bahasa iklan yang digunakan oleh sekolah-sekolah untuk mempromosikan diri kepada para orang tua siswa yang sedang memilih sekolah bagi putra-putrinya. Sekolah-sekolah dengan kurikulum asing sering juga menyebut diri sebagai sekolah internasional. Pada hal sebenarnya sekolah-sekolah asing semacam ini berbeda dari sekolah bertaraf internasional atau yang lebih dikenal dengan SBI. Sebuah sekolah asing belum tentu merupakan sekolah bertaraf Internasional. Yang lebih membingungkan adalah sekolah-sekolah yang tidak menunjukkan karakter bertaraf internasional tetap menyebut diri sebagai sekolah bertaraf internasional. Di sisi lain masyarakat belum memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai tentang sekolah Bertaraf Internasional baik secara substansial maupun konstektual akibat dari kurangnya sosialisasi. Karena itu masyarakat perlu diberikan informasi yang jelas mengenai sistem persekolahan di negeri ini paling tidak dari tampakan masing-masing jenisnya.
Di Indonesia ada 2 jenis sekolah, yakni sekolah asing dan sekolah nasional. Sekolah asing adalah sekolah dengan tatacara dan kurikulum asing tetapi beroperasi di Indonesia yang diperuntukkan bagi warga negara asing tersebut seperti warga kedutaan, pekerja asing dan sebagainya. Sekolah nasional adalah sekolah dengan kurikulum nasional, baik yang diadaptasi dari sekolah bertaraf Internasional maupun tidak. Berdasarkan mutunya, sekolah nasional dibedakan menjadi 3 level. Standar mutu ini diperoleh melalui akreditasi dan evaluasi secara khusus. Ketiga kategori itu adalah: Sekolah Standar, Sekolah Kategori Mandiri (SKM) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI ). Masing-masing kategori memiliki variabel pembeda yang dapat dirasakan oleh para siswa yang mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Beberapa variabel juga terlihat secara kasat mata. Masyarakat kiranya perlu mengetahui variabel-variabel tersebut.
Pada tulisan ini pembicaraan akan difokuskan kepada sekolah Bertaraf Internasional dengan asumsi bahwa dua level sekolah sebelumnya telah ada di masyarakat selama ini. Secara kuantitatif dan kualitatif sebuah sekolah bertaraf Internasional memiliki beberapa acuan yang mudah dilihat dan dirasakan oleh masyarakat terutama oleh siswa. Acuan-acuan tersebut antara lain adalah : sekolah menerapkan kurikulum adaptasi Internasional (adapted curriculum), sekolah menerapkan pembelajaran dengan bahasa pengantar bahasa Inggris terutama pada bidang MIPA dan Bahasa Inggris (English Integrated to subject matter), menerapkan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ( ICT based learning) dan menerapkan management berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ( ICT based management). Sarana prasarana pembelajaran seperti laboratorium, perpustakaan, ruang pertunjukan, ruang multimedia dan jaringan intranet maupun internet tersedia secara lengkap dan berfungsi secara baik. Input siswa terseleksi secara baik , proses pendidikan berlangsung berimbang antara akademik dan non akademik , memiliki output berdaya saing tinggi secara nasional maupun internasional dalam perebutan bangku kuliah di Perguruan Tinggi serta sanggup memberi dan menerima akses secara internasional menggunakan media komunikasi mutakhir. Pembentukan rombongan belajar dan proses pembelajaran didasarkan atas teori-teori yang terbukti sukses di negara-negara maju serta adanya kolaborasi pendidikan secara internasional. Dengan kata lain sebuah Sekolah Bertaraf Internsional adalah sekolah yang telah memiliki standar lebih tinggi daripada sekolah pada level yang lain menyangkut 8 standar pendidikan nasional. Tentunya orang tua siswa harus merogoh kocek lebih tinggi untuk membiayai semua kelebihan ini dibandingkan dengan siswa pada sekolah level lainya. Bahkan pemerintahpun harus bersedia mengeluarkan anggaran lebih untuk memelihara sekolah-sekolah bertaraf internasional tanpa mengesampingkan peran sekolah pada level yang lain.
Selanjutnya, masyarakat terutama para orang tua siswa dapat bertanya kepada dirinya dan putra-putrinya yang bersekolah pada sekolah-sekolah yang berlabel Sekolah Bertaraf Internasional. Pertanyaan-pertanyaan utama yang perlu diajukan adalah : Apakah kurikulumnya diadaptasi dari kurikulum sekolah bertaraf Internasional ? Apakah Bahasa Inggris diintegrasikan ke dalam pembelajaran terutama pembelajaran MIPA ? Apakah sarana pembelajarannya lengkap atau tidak ? Apakah pembelajaran berbasis ICT? Apakah ada keseimbangan antara kegiatan kurikuler dan pengembangan diri ( ekstrakurikuler, pembinaan kepribadian dan lain-lain)? Apakah rombongan belajar dibentuk berdasarkan teori-teori pendidikan yang baik dan memperhatikan segi fisik dan psikis siswa? Apakah sebagian besar lulusannya diterima di Perguruan Tinggi Bermutu baik di dalam maupun di luar negeri ? Apakah sebagian besar lulusannya sukses dalam menempuh pendidikan lanjutan maupun menempuh kehidupan selanjutnya ? Apakah biaya pendidikan di sekolah tersebut lebih tinggi daripada sekolah -sekolah lainnya ? Jika hampir semua pertanyaan ini terjawab “ya”, berarti secara umum sekolah tersebut adalah sekolah Bertaraf Internasional. Sebaliknya bila hampir semua pertanyaan itu terjawab “tidak” maka berarti sekolah tersebut bukan Sekolah bertaraf Internasional meskipun memasang label sebagai Sekolah Bertaraf Internasional.
Secara mendetail Direktorat Jendral Pembinaan SMA telah menggunakan sekitar 200 indikator untuk mengetahui apakah sebuah sekolah merupakan sekolah sudah pada level sekolah bertaraf internasional atau belum. Namun tak semua indikator tersebut kasat mata bagi masyarakat umum dan memerlukan kemampuan lebih lanjut untuk mengkajinya. Beberapa pertanyaan di atas merupakan instrumen untuk melihat indikator paling depan dari sebuah sekolah bertaraf Intrnasional.
Dengan mengetahui secara substansial dan kontekstual makna apa yang terkandung di balik istilah Sekolah Bertaraf Internasional diharapkan masyarakat bersikap kritis secara proporsional dan terarah terhadap kegiatan pendidikan seiring semakin tingginya wawasan terhadap dunia pendidikan. Hal ini dapat menjadi sumbangan yang berharga bagi kemajuan dunia pendidikan di negeri ini. Masyarakat jangan asal bicara, asal usul. Kalau mau usul jangan sekedar asal.

Thursday, April 30, 2009

PROBLEMATIKA UJIAN NASIONAL DAN PENYELARASANNYA


Oleh : Drs. Purnajaya M.Pd

Problematika Ujian Nasional Sekolah Menengah tahun 2009.
Ujian Nasional bagi Sekolah Menengah di Indonesia bukanlah pertama kali dilakukan. Sejak negeri ini memproklamasikan kemerdekaan, Ujian Nasional telah dilakukan walaupun dalam bentuk yang berbeda-beda. Pelaksanaan Ujian Nasional ini memang pernah terhenti antara tahun 1972 sampai dengan tahun 1983. Sebab pada tahun-tahun itu Ujian akhir dilakukan oleh sekolah masing-masing yang dikenal dengan nama Ujian Sekolah. Namun pengalaman yang panjang melaksanakan Ujian Nasional pada masa lalu itu tentu dapat dianggap cukup bila digunakan untuk menelaah dan mengkaji pelaksanaannya secara keseluruhan, baik dari segi makna, tujuan, ketepatgunaan maupun inovasi yang harus dilakukan dalam rangka penyempurnaan. Hal ini menunjukkan bahwa Ujian Nasional dapat dipandang sebagai hal yang biasa dan waktu pelaksanaannya sudah dapat dipastikan sejak awal oleh setiap siswa.
Tetapi kenyataannya sampai pada pelaksanaanya yang kepuluhan kali Ujian Nasional belum dapat memenuhi ketepatgunaan secara baik. Pedoman pelaksanaan yang selalu berubah cendrung menimbulkan fakta bahwa belum adanya pertalian yang utuh antara Ujian Nasional dan program kurikulum yang sedang berlaku. Artinya program Ujian Nasional tidak merupakan bagian dari satu kesatuan yang utuh dalam kurikulum yang sedang berlaku saat ini, yakni KTSP yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bentuk paling transparan dari tidak adanya pertalian tersebut adalah digunakannya hasil Ujian Nasional sebagai faktor penentu kelulusan siswa tanpa dikombinasikan dengan komponen nilai lainnya pada sebuah mata pelajaran. Dari kenyataan ini muncul beberapa kontradiksi yang akhirnya menyebabkan Ujian Nasional itu menjadi kontra produktif. Kontradiksi-kontradiksi yang terjadi meliputi :
Pertama terjadi kontradiksi dengan konsep daya tampung sekolah. Dalam konsep daya tampung sekolah yang berlaku sekarang, jumlah siswa yang diterima tergantung pada daya tampung sekolah. Artinya rasio jumlah siswa yang melamar dan yang diterima sangat bervariasi. Bisa jadi kapasitas sekolah lebih besar dari pada jumlah siswa yang melamar di sekolah tersebut. Dalam hal ini semua siswa yang melamar akan diterima. Jadi seleksi terhadap mutu siswa baru di sekolah tersebut sama sekali tidak dapat dikendalikan. Siswa dengan kapasitas belajar yang rendah akan diterima juga. Kapasitas belajarnya rendah tak dapat dikembangkan terlalu jauh. Hal ini jelas akan membawa resiko tidak mampunya siswa tersebut dalam menguasai materi-materi yang diajarkan, yang secara langsung berimplikasi pada rendahnya daya serap siswa. Daya serap yang rendah akan mangakibatkan sedikitnya materi ajar yang dikuasai siswa secara akumulatif.
Bila dilakukan pengukuran dengan menggunakan cakupan kurikulum secara nasional sebagai acuan maka anak-anak semacam ini akan berada di daerah bawah. pada banyak pelajaran. Akibatnya mereka akan jatuh dan tak lulus ujian. Masyarakat pun memprotes atas dirasakannya kontradiksi ini.
Para politisi biasanya mengambil keuntungan pada keadaan ini untuk mengkritis bahkan mungkin menjatuhkan lawan-lawan politiknya.Timbullah kebijaksanaan-kebijaksanaan baru yang diargumentasikan lebih baik, lebih prediktif dan sebagainya.
Jadi karena kegunaan Ujian Nasional itu belum tepat maka perlu digeser kepada fungsinya yang proporsional sehingga keberadaannya bernilai positif bagai yang bekepentingan.
Kedua, kontradiksi dengan pemerataan kesempatan mengenyam pendidikan. Untuk saat ini konsep pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan telah sedikit bergeser dari konsep bahwa pendidikan yang diberikan harus disesuaikan dengan bakat dan minat, menuju konsep bahwa siapa saja dapat mengenyam pendidikan apa saja asalkan memiliki keinginan walaupun kapasitas belajarnya untuk itu masih diragukan. Hal ini menyebabkan banyak kalangan muda mengejar pendidikan tertentu yang bagi orang lain dapat meningkatkan derajat hidup dan status sosial, walaupun belum tentu demikian bagi dirinya. Hal ini juga bagian dari dominasi orang tua dalam hal memilih jenis dan jenjang pendidikan bagi putra-putrinya.
Kenyataan di atas akan menyebabkan tidak sesuainya antara bakat yang dimiliki siswa dengan jenjang jenis pendidikan yang dipilih. Akibatnya adalah mereka menempuh pendidikannya asal-asalan dan tidak maksimal.
Ketiga kontradiksi dengan kurikulum berbasis kompetensi. Dalam kurikulum berbasis kompetensi ditekankan adanya remidi bagi siswa-siswa yang belum tuntas . Setelah dikuasainya kompetensi tertentu maka ujian tak diperlukan lagi sebagai alat pengukuran kelulusan. Sebab nilai ketuntasan telah mencerminkan terkuasainya kompetensi tertentu. Dalam hal ini ujian Nasional seperti yang dilaksanakan dengan fungsi seperti tahun 2006 tidaklah tepat. Di samping mubasir juga tidak efisien dan tidak efektif.
Murid-murid yang dididik dengan konsep pendidikan dalam kurikulum berbasis kompetensi tidak tepat diuji dengan ujian model Ujian Nasional.
Ketidaktepatan ini telah menimbulkan berbagai ekses yang justru kontraproduktif dengan hakekat pendidikan. Beberapa hal kontraproduktif yang muncul sebagai respon terhadap target Ujian Nasional yang mematok nilai tertentu untuk bisa mengantongi Ijazah adalah :
Pertama, berbagai praktek kecurangan. Berbagai praktek kecurangan tersiar lewat media masa baik media cetak maupun elektronik sekitar pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2006. Pengguaan SMS untuk membagi-bagikan jawaban dari seorang joki kepada peserta ujian terjadi di mana-mana. Bahkan ada yang pelaksanaannya terorganisir dan mendapat ”legitimasi” dari pihak sekolah, karena bila banyak siswa-siswa yang tidak lulus maka akan dapat merusak citra sekolah.
Cara lain melakukan kecurangan yang juga muncul dalam ujian Nasional tahun 2006 adalah adanya negosiasi antara pihak sekolah dan pihak pengawas Ujian untuk memperlonggar pengawasan Ujian sehingga murid-murid dapat bekerjasama untuk menggolkan tujuan yakni bisa mendapatkan angka kelulusan yang tinggi dari sekolah tersebut.
Tentu masih banyak hal lain yang terjadi yang bertentangan dengan hakekat pendidikan. Karena pada hakekatnya pendidikan yang diterapkan di Indonesia khususnya merupakan bentuk nyata dari usaha untuk bisa lepas dari berbuat curang. Pendidikan agama, budi pekerti adalah bentuk-bentuk nyata dari usaha itu. Peningkatan kualitas moral peserta didik ditandai oleh berkurangnya frekuuensi perbuatan yang kurang baik dari para peserta didik. Tetapi ketidak mampuan sekolah dan komunitas pelajar dengan kapasitas belajarnya yang tidak memungkinkan akan melahirkan ide-ide aneh yang sebenarnya telah diketahui tidak baik bila ditinjau ukuran moralitas.
Dalam keadaan seperti ini Ujian Nasional menjadi menyeramkan, menjadi penyebab frustasi sekaligus penyebab munculnya praktek-pratek curang seperti jawaban diberikan oleh guru, siswa main sms, penggantian jawaban salah dari peserta oleh lembaga atau mungkin bentuk-bentuk kecurangan lainnya yang belum terungkap sampai saat ini. Hal ini sangat kontraproduktif dengan hakekat pendidikan yang pada dasarnya adalah pembentukan karakter peserta didik . Bila berbagai hal tidak terpuji menjadi bagian dalam proses pendidikan maka sudah dapat diduga karakter macam apa yang akan terbentuk di kemudian hari.
Kedua, masyarakat tidak puas terhadap kinerja lembaga pendidikan. Banyak anggota masyarakat yang mengekspresikan rasa kecewanya terdadap dunia pendidikan . Adanya siswa pintar bahkan sudah diterima di Perguruan Tinggi tidak lulus, sebaliknya siswa yang kurang pintar bisa lulus karena terjamah praktek kecurangan , telah menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Tidak ada yang rela dipersalahkan atas semua ini ? Semua pihak saling berdalih untuk melindungi kepentingan dan mencari logika pembenar perbuatan masing-masing. Tak apa-apa. Kita tidak sedang mencari siapa yang salah tetapi sedang mencari jalan keluar dari kesesatan ini. Karena itu kita akan mengkaji masalah ini baik dari sistem kurikulum yang berlaku maupun bagaimana posisinya dalam sistem pendidikan kita.

Penyelarasan Ujian Nasional Sekolah Menengah 2006 terhadap Progran Kurikulum Seutuhnya.
Ditinjau dari sudut kurikulum; SMP dan SMA saat ini sedang memberlakukan dua jenis kurikulum yakni Kurikulum 1994 untuk sebagian sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikulum 2004) yang saat ini menjadi kurikulum 2006 untuk sebagian lainya lagi. Pada kurikulum 1994 , kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi antara Nilai Ujian Nasional (NUAN) , Nilai Raport dan nilai ujian Nasional dengan menggunakan rumus tertentu berbentuk dengan P = Nilai Raport, Q = Nilai Ujian Sekolah dan R = nilai Ujian Nasional yang berikutnya diubah lagi menjadi pada tahun 2000. Proporsi tertentu antara pengaruh nilai Ujian Nasional dan nilai lokal akan tergambar pada besar kecilnya nilai n. Hal itu juga menunjukkan besarnya porsi otonomi sekolah dalam menentukan kelulusan para siswanya. Sedangkan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, secara teoritis kenaikan kelas dan kelulusan ditentukan oleh Ketercapaian Standar Ketuntasan Belajar Minimum di sekolah yang bersangkutan yang yang diukur oleh guru mata pelajaran bersama-sama dengan manajemen sekolah. Ketercapaian standar ketuntasan belajar minimum bermakna tingkat penguasaan kompetensi dasar yang ditunjuk. Pada skala yang lebih luas bermakna telah termilikinya kompetensi mata pelajaran dan kompetensi lulusan oleh seorang peserta didik.
Jadi dari kedua sistem kurikulum yang berlaku saat ini tak satupun yang melegitimasi otorisasi nilai Ujian Nasional sebuah mata pelajaran menentukan kelulusan bagi mata pelajaran tersebut. Hal ini dapat diartikan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2006 tidak efektif bila dikaji dengan pandangan keutuhan progran kurikulum.
Beberapa langkah perlu diambil untuk membuat pelaksanaan Ujian Nasional Sekolah menengah menjadi selaras dengan kurikulum yang sedang berlaku di antaranya :
Pertama, melakukan kaji ulang secara mendalam kurikulum yang sedang berlaku agar diketahui secara pasti model evaluasi yang diperlukan pada setiap cakupan evaluasi, baik untuk mengukur kompetensi mata pelajaran maupun kompetensi lulusan. Bila model evaluasi yang paling sesuai telah ditetapkan maka model itulah yang harus dijalankan, tak perlu diganti tanpa adanya hasil penelitian yang akurat yang menyatakan bahwa model tersebut mengandung kelemahan yang tak diperhitungkan sebelumnya.
Bila kita konsekwen dengan kurikulum yang sedang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan di sebuah lembaga pendidikan seperti SMP dan SMA saat ini maka kita akan dapat menempatkan dengan setepat-tepatnya posisi masing-masing komponen program pendidikan sehingga keberadaannya mendukung tujuan pendidikan , bukan justru merusaknya.
Baik pada kurikulum 1994 maupun pada sistem KBK Nilai UN sangat diperlukan untuk melihat posisi mutu seorang lulusan sebuah sekolah dari nilai standar secara nasional. Tetapi nilai Ujian Nasionalnya bukan untuk menentukan kelulusan seorang siswa dari lembaga SMP atau SMA tersebut. Nilai Ujian Nasional dapat digunakan melihat stndar pendidikan kita secara nasional, ketidak merataan mutu pendidikan di berbagai daerah sehingga program pengembangan pendidikan di masing-masing daerah dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Kedua, meneliti sebab-sebab dan akibat-akibat dari permasalahan yang muncul dari pelaksanaan Ujian Nasional baik yang telah mengemuka pada tahun 2006 ini maupun yang berpotensi muncul pada tahun yang akan datang bila arah, tujuan dan efektivitas pelaksanaan Ujian Nasional tidak dimodifikasi. Dan disesuaikan dengan kebutuhan berbagai konsep dan program yang terintegrasi dalam pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku.

Penyelarasan Ujian Nasional terhadap program wajib belajar
Telah disadari oleh bangsa Indonesia bahwa program wajib belajar mempunyai tujuan yang luas dan sangat penting. Mengentaskan berbagai kebutaan bagi setiap warga negara akan membuka wawasan bangsa terhadap berbagai khasanah ilmu pengetahuan yang tak dapat dinikmati oleh seseorang yang buta aksara.
Sisi negatif dari program wajib belajar ini adalah adanya unsur pemaksaan kepada warga negara terutama terhadap mereka yang tidak berniat mengenyam pendidikan dan mereka yang tak mempunyai kapasitas belajar yang memadai. Pemaksaan terhadap mereka yang masuk katagori pertama akan menciptakan pelajar yang tak serius dalam belajar, sehingga tak mampu mencapai target yang ditetapkan oleh kurikulum yang sedang berlaku. Sementara pemaksaan terhadap mereka yang termasuk dalam katagori kedua akan menciptakan siswa-siswa yang cendrung tidak dapat naik kelas dan tak dapat lulus bila aturan kurikulum diterapkan secara tegas. Kedua kelompok ini berada pada ekor kiri kurva normal.Mereka yang berada pada kelompok ini sangat sulit mencapai nilai standar yang ditetapkan dalam Ujian Nasional. Karena keberadaan mereka pada jenjang itu semata-mata karena program yang mewajibkan mereka berada di sana. Karena itu sistem Ujian Nasional yang berlaku sekarang harus diselaraskan dengan dengan program wajib belajar.
Cara yang dapat ditempuh dalam rangka penyelarasan ini adalah mengganti fungsi Ujian nasional dari alat untuk mengatur kelulusan menjadi alat standari penamatan. Artinya mereka yang telah mencapai ketuntasan dalam proses belajar mengajar dapat menamatkan pendidikannya. Sementara itu hasil ujian Nasional akan menunjukkan standar kelulusan mereka bila dilihat secara nasional. Hal ini akan berguna bagi pasaran kerja untuk memilih calon-calon pekerja dengan tingkat kompetensi yang diinginkan oleh pasar kerja. Dengan cara seperti ini maka negara dapat melaksanakan tugasnya, sementara generasi bermutu akan lahir secara alami.

Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat ditarik beberapa simpulan yaitu :
1. Ujian Nasional tetap diperlukan baik untuk melihat perbedaan mutu antara seorang lulusan dan lulusan lainnya dalam sebuah lembaga , melihat perbedaan mutu antara satu lembaga pendidikan dengan lembaga lain yang sejajar maupun untuk mengukur kemajuan dunia pendidikan secara nasional.
2. Ujian Nasional yang kita laksanakan saat ini belum tepat guna sehingga menimbulkan berbagai masalah baru antara lain kontradiksi dengan konsep wajib belajar, kontradiksi dengan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan maupun kontradiksi dengan program dalam kurikulum yang sedang berlaku, yang dapat menyesatkan peserta didik, lembaga pendidikan ke dalam berbagai hal yang kontraproduktif dengan hakekat pendidikan.
3. Kita belum menerapkan sebuah sistem pendidikan secara utuh, komprehensif dan otoriter ( tidak diintervensi oleh kepentingan lain ), sehingga sering timbul ketimpangan antar komponen pendidikan.
4. Pelaksanaan Ujian Nasional yang perlu diselaraskan kembali dengan berbagai konsep fundamental yang sudah ada seperti konsep wajib belajar, konsep pemerataan kesempatan menperoleh pendidikan dan konsep-konsep lain yang terdapat dalam kurikulum yang sedang berlaku.
Saran
Dengan mengacu kepada kesimpulan yang ditarik , maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Agar pemerintah tetap melaksanakan Ujian Nasional untuk dijadikan bahan perbandingan kemajuan pendidikan antar peserta didik , perbandingan mutu antara satu sekolah dengan sekolah lainnya bahkan untuk meperbandingkan tingkat kemajuan pendidikan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya di Indonesia.
2. Agar penentuan kelulusan atau kenaikan kelas disesuaikan dengan apa yang diatur secara integrasi dalam kurikulum. Konsep evaluasi pendidikan agar dipandang sebagai bagian terintegrasi dengan kurikulum sehingga pelaksanaannya tak menimbulkan kontradiksi dengan berbagai konsep yang sudah ada di dunia pendidikan kita.
3. Agar lembaga pendidikan maupun peserta didik membiasakan pelaksanaan proses evaluasi yang semakin objektif dan jujur untuk membentuk karakter yang baik para lulusan.
4. Agar kita mulai menerapkan sistem pendidikan yang utuh, komprehensif dan otoriter, sehingga terdapat keselarasan di antara berbagai komponen yang secara simultan menentukan arah langkah, tingkat ketercapaian tujuan pendidikan.

ADA APA DENGAN MATEMATIKA DI SEKOLAH ?


Oleh : Drs. I Nyoman Purnajaya,M.Pd


Selama ini pelajaran matematika masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar siswa. Lebih dari separuh siswa punya kesan tidak menyenangkan terhadap pelajaran matematika. Sementara itu pembelajaran matematika di sekolah lebih banyak bersifat mengalir begitu saja sesuai dengan instink guru sebagaimana halnya juga pelajaran yang lain. Teori-teori pembelajaran yang diperoleh di bangku kuliah , melalui penataran penyegaran maupun berbagai workshop, belum banyak diaplikasikan di kelas oleh para guru. Akhirnya pembelajaran menjadi sebuah rutinitas panjang yang membuat para siswa menjadi jemu dan tak partisipatif. Belum lagi heterogenitas kelas yang sangat tinggi, menyebabkan sebagian besar siswa tak pernah punya kesempatan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran bahkan selama mereka menjadi siswa. Gurupun pada umumnya tak begitu mempedulikannya. Toh beberapa siswa yang pintar pada bidang ini telah membuat suasana kelas seperti benar-benar hidup tanpa cacat. Akibatnya, sebagian siswa benar-benar masuk ke kelas untuk menambah stres dan bukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Padahal telah diketahui bahwa kelas-kelas yang dikelola secara sembrono oleh guru akan menurunkan prestasi siswa secara keseluruhan pada mata pelajaran yang diampunya. Karena itu dalam pembelajaran di kelas seorang guru (dalam hal ini guru matematika) setidak-tidaknya harus mempertimbangkan variabel-variabel dominan seperti : dimenasi kesulitan belajar siswa dan pengelolaan proses pembelajaran.
Pada kenyataannya hampir semua kesulitan belajar siswa dalam bidang matematika berada pada empat dimensi utama berikut : (1) Siswa tidak mengenal fakta atau tidak mengetahui apa arti sebuah simbol matematika. Hal ini dapat terjadi karena saat menuliskan simbul tersebut guru tidak memberikan penekanan yang cukup kuat atau guru mungkin menggunakan berbagai simbul yang berbeda-beda untuk sebuah tujuan. Sangatlah penting konsistensi guru dalam penggunaan simbol matematika untuk sebuah maksud terutama di awal-awal mempelajari sebuah topik. Hal ini akan sangat membantu siswa melakukan pembelajaran yang lebih tinggi tingkatannya. Bila guru sudah konsisten menggunakan simbol tetapi beberapa murid masih mengalami kesulitan maka pastilah sumbernya adalah siswa malas menghafal karana bagian ini merupakan sisi menghafal dan mengingat dalam pelajaran matematika. (2) Siswa tidak memahami konsep. Pada tingkat ini siswa tak tahu batas-batas pengertian sebuah konsep sebagai akibat dari tak sempurnya proses generalisasi yang dialami siswa. Kesulitan memahami konsep ini akan tampak sebagai kesulitan siswa untuk membedakan antara hal yang merupakan contoh dan bukan contoh tentang sebuah nama, seperti persegipanjang, jajaran genjang, lingkaran dan lain-lain. (3) Siswa tak memahami prinsip atau hubungan antar komponen logika. Bentuk nyata dari kesulitan ini adalah siswa tak dapat mengunakan rumus-rumus matematika dengan benar. Hal ini bersumber pada tidak sempurnanya proses analisis dan sintesis pada saat rumus-rumus tersebut terbentuk melalui proses pembelajaran. (4) Siswa tak memiliki skill atau tidak terampil mempermainkan logika. Hal ini terjadi karena siswa jarang latihan. Bentuk paling nyata dari kesulitan ini adalah siswa tidak dapat memecahkan persoalan yang jenisnya berbeda dari yang pernah dijumpai sebelumnya. Kesulitan yang terakhir ini dapat dialami oleh siswa yang sangat cerdas sekalipun. Kesulitan ini dapat diatasi dengan meningkatkan motivasi belajar para siswa.
Aspek kedua yang memegang peran dalam membangun prestasi matematika siswa adalah pengelolaan pembelajaran. Kelas yang heterogen akan menyebabkan persaingan tak seimbang di antara para siswa. Siswa yang berkemampuan tinggi cenderung mendominasi kelas. Sementara itu, siswa yang berkemampuan rendah, berada dalam proses mengendapkan stres ke alam bawah sadarnya sebagai akibat perasaan tak mampu dan tak mendapat kesempatan untuk mengaktualisasi diri.
Apa hasilnya ? Di satu sisi akan lahir orang-orang yang hanya selalu ingin menguasai orang lain, egois dan sombong. Pada sisi lainnya akan lahir orang-orang yang memusuhi orang pintar dan membenci orang-orang arif. Hal ini terbentuk secara tidak disadari di sebuah kelompok yang kecil yang kita sebut kelas belajar. Fakta-fakta yang kita lihat saat ini seperti buruh mendemo majikan atau pembantu membunuh majikan, rakyat mendemo pemimpin dengan cara-cara anarkhis bisa jadi merupakan hasil sebuah proses panjang yang sudah dimulai sejak 20 atau 30 tahun sebelumnya.
Kenyataan ini harus segera distop. Pembentukan kelompok-kelompok kelas belajar yang relatif homogen perlu menjadi pertimbangan utama di sekolah. Hal ini sangat penting agar semua siswa punya kesempatan dan keberanian yang setara untuk berpartisipasi dalam pembelajaran yang pada akhirnya akan membawa mereka mampu bekerja sama secara baik dalam kehidupan selanjutnya. Guru juga akan mudah memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kelas.
Membangun prestasi harus dimulai dari membangun kesempatan yang lebih luas bagi para siswa untuk merasa berharga dan merasa berguna. Dengan merasakan bahwa kehadirannya berguna, seorang akan mempunyai semangat untuk mengaktualisasikan diri. Membangun kompetisi di antara dua kelompok berimbang akan menciptakan dua kemampuan penting pada para siswa yakni kemampuan berkompetisi secara adil dan meyenangkan dan kemampuan bekerjasama. Pelajaran matematika, diakui atau tidak sampai saat ini dan mungkin sampai nanti paling sering dijadikan tolok ukur oleh para orang tua siswa di rumah , oleh masyarakat dan oleh dunia pendidikan. Karena itu andilnya untuk menciptakan kesenjangan keshidupan kejiwaan di antara para siswa juga paling besar. Sekolah perlu waspada , jangan sampai hanya bisa melahirkan manusia yang mampu bersaing dengan orang lain, tetapi harus juga dipikirkan dan diusahakan bagaimana menciptakan manusia yang pintar bekerjasama dengan sesama. Harus diingat bahwa masalah-masalah besar hanya akan selesai bila dikerjakan dengan kerjasama yang baik oleh banyak orang. Bila itu kita mulai sekarang, niscaya 20 tahun yang akan datang wajah bangsa ini pasti akan berbeda. Amin....

Wednesday, April 29, 2009

Research Abstract in Education Program Evaluation

THESIS
ABSTRACT

Purnajaya, I Nyoman (2008). Program Implementation Evaluation of SMA Negeri 1 Denpasar Quality Improvement Program to International Level School, Thesis, Program Study of Research and Education Evaluation, Magister Program, Pendidikan Ganesha University Singaraja.

This thesis has supervised and corrected by :
Prof. Dr. I Wayan Koyan, M.Pd
Dr. Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni, MA.

Keyword:
Program Evaluation, Senior High School Quality Improvement, International Level School.
The Quality Improvement Program to International Level School in SMA 1 Denpasar is expected effective to improve the education quality in this school, but there is no scientific and authentic evidences yet which show this expectation has satisfied. So the aim of this research is to evaluate the effectiveness of Quality Improvement Program of SMA 1 Denpasar to International Level School. Program evaluation model used is CIPP which’s evaluates a program from context, input, process and output sides.
There are three main problems that will be solved throughout this research, are that : how is the SMA 1 Denpasar community insight about the Quality Improvement Program of SMA 1 Denpasar to International Level School?, what is the level of program implementation related to some parts of the program ? and is there different level of both mathematics and science achievement between the students who follow teaching-learning process in international program and the students in conventional program ?
Data collecting method used in this research are interview, observation, documents record and test. Interview is used to collect data about School community insight of Quality Improvement Program of SMA Negeri 1 Denpasar, Observation and document research for data of program implementation and test is used for data of students achievement. To analyze this collected data used suitable method regarding data types collected, are that : qualitative descriptive analysis for interview results , quantitative descriptive analysis for the data of observations and documents record and statistics analysis with one raw ANACOVA test for data of students achievement.
The result of data analysis show that the school community have relevant insight with basic concept of School Development and Investment Plan to International level School, the level program implementation is high in general and the program proved effective to improve students achievement especially in sciences and mathematics subjects. This fact is shown by the result of ANACOVA test which given F = 12,9 so far larger than critical value of F = 4,09 for level of significant 5% and 7,08 for level of significant 1%. This can be interpreted that the students achievement in science and mathematics who follow teaching and learning process in international program is different significantly from the achievement of students who follow the teaching-learning process in conventional program for the same subject. Objective achievement of the students in international program is better than the achievement of students in conventional program.
As implication of the conclusion we recommend the following thing : this program is reasonable to be continued, this program still need to be improved on some of it part which haven’t run effectively and it’s need to be evaluated continuously so every progress and every handicap is known exactly and earlier.