Oleh : Drs. I Nyoman Purnajaya,M.Pd
Selama ini pelajaran matematika masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar siswa. Lebih dari separuh siswa punya kesan tidak menyenangkan terhadap pelajaran matematika. Sementara itu pembelajaran matematika di sekolah lebih banyak bersifat mengalir begitu saja sesuai dengan instink guru sebagaimana halnya juga pelajaran yang lain. Teori-teori pembelajaran yang diperoleh di bangku kuliah , melalui penataran penyegaran maupun berbagai workshop, belum banyak diaplikasikan di kelas oleh para guru. Akhirnya pembelajaran menjadi sebuah rutinitas panjang yang membuat para siswa menjadi jemu dan tak partisipatif. Belum lagi heterogenitas kelas yang sangat tinggi, menyebabkan sebagian besar siswa tak pernah punya kesempatan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran bahkan selama mereka menjadi siswa. Gurupun pada umumnya tak begitu mempedulikannya. Toh beberapa siswa yang pintar pada bidang ini telah membuat suasana kelas seperti benar-benar hidup tanpa cacat. Akibatnya, sebagian siswa benar-benar masuk ke kelas untuk menambah stres dan bukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Padahal telah diketahui bahwa kelas-kelas yang dikelola secara sembrono oleh guru akan menurunkan prestasi siswa secara keseluruhan pada mata pelajaran yang diampunya. Karena itu dalam pembelajaran di kelas seorang guru (dalam hal ini guru matematika) setidak-tidaknya harus mempertimbangkan variabel-variabel dominan seperti : dimenasi kesulitan belajar siswa dan pengelolaan proses pembelajaran.
Pada kenyataannya hampir semua kesulitan belajar siswa dalam bidang matematika berada pada empat dimensi utama berikut : (1) Siswa tidak mengenal fakta atau tidak mengetahui apa arti sebuah simbol matematika. Hal ini dapat terjadi karena saat menuliskan simbul tersebut guru tidak memberikan penekanan yang cukup kuat atau guru mungkin menggunakan berbagai simbul yang berbeda-beda untuk sebuah tujuan. Sangatlah penting konsistensi guru dalam penggunaan simbol matematika untuk sebuah maksud terutama di awal-awal mempelajari sebuah topik. Hal ini akan sangat membantu siswa melakukan pembelajaran yang lebih tinggi tingkatannya. Bila guru sudah konsisten menggunakan simbol tetapi beberapa murid masih mengalami kesulitan maka pastilah sumbernya adalah siswa malas menghafal karana bagian ini merupakan sisi menghafal dan mengingat dalam pelajaran matematika. (2) Siswa tidak memahami konsep. Pada tingkat ini siswa tak tahu batas-batas pengertian sebuah konsep sebagai akibat dari tak sempurnya proses generalisasi yang dialami siswa. Kesulitan memahami konsep ini akan tampak sebagai kesulitan siswa untuk membedakan antara hal yang merupakan contoh dan bukan contoh tentang sebuah nama, seperti persegipanjang, jajaran genjang, lingkaran dan lain-lain. (3) Siswa tak memahami prinsip atau hubungan antar komponen logika. Bentuk nyata dari kesulitan ini adalah siswa tak dapat mengunakan rumus-rumus matematika dengan benar. Hal ini bersumber pada tidak sempurnanya proses analisis dan sintesis pada saat rumus-rumus tersebut terbentuk melalui proses pembelajaran. (4) Siswa tak memiliki skill atau tidak terampil mempermainkan logika. Hal ini terjadi karena siswa jarang latihan. Bentuk paling nyata dari kesulitan ini adalah siswa tidak dapat memecahkan persoalan yang jenisnya berbeda dari yang pernah dijumpai sebelumnya. Kesulitan yang terakhir ini dapat dialami oleh siswa yang sangat cerdas sekalipun. Kesulitan ini dapat diatasi dengan meningkatkan motivasi belajar para siswa.
Aspek kedua yang memegang peran dalam membangun prestasi matematika siswa adalah pengelolaan pembelajaran. Kelas yang heterogen akan menyebabkan persaingan tak seimbang di antara para siswa. Siswa yang berkemampuan tinggi cenderung mendominasi kelas. Sementara itu, siswa yang berkemampuan rendah, berada dalam proses mengendapkan stres ke alam bawah sadarnya sebagai akibat perasaan tak mampu dan tak mendapat kesempatan untuk mengaktualisasi diri.
Apa hasilnya ? Di satu sisi akan lahir orang-orang yang hanya selalu ingin menguasai orang lain, egois dan sombong. Pada sisi lainnya akan lahir orang-orang yang memusuhi orang pintar dan membenci orang-orang arif. Hal ini terbentuk secara tidak disadari di sebuah kelompok yang kecil yang kita sebut kelas belajar. Fakta-fakta yang kita lihat saat ini seperti buruh mendemo majikan atau pembantu membunuh majikan, rakyat mendemo pemimpin dengan cara-cara anarkhis bisa jadi merupakan hasil sebuah proses panjang yang sudah dimulai sejak 20 atau 30 tahun sebelumnya.
Kenyataan ini harus segera distop. Pembentukan kelompok-kelompok kelas belajar yang relatif homogen perlu menjadi pertimbangan utama di sekolah. Hal ini sangat penting agar semua siswa punya kesempatan dan keberanian yang setara untuk berpartisipasi dalam pembelajaran yang pada akhirnya akan membawa mereka mampu bekerja sama secara baik dalam kehidupan selanjutnya. Guru juga akan mudah memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kelas.
Membangun prestasi harus dimulai dari membangun kesempatan yang lebih luas bagi para siswa untuk merasa berharga dan merasa berguna. Dengan merasakan bahwa kehadirannya berguna, seorang akan mempunyai semangat untuk mengaktualisasikan diri. Membangun kompetisi di antara dua kelompok berimbang akan menciptakan dua kemampuan penting pada para siswa yakni kemampuan berkompetisi secara adil dan meyenangkan dan kemampuan bekerjasama. Pelajaran matematika, diakui atau tidak sampai saat ini dan mungkin sampai nanti paling sering dijadikan tolok ukur oleh para orang tua siswa di rumah , oleh masyarakat dan oleh dunia pendidikan. Karena itu andilnya untuk menciptakan kesenjangan keshidupan kejiwaan di antara para siswa juga paling besar. Sekolah perlu waspada , jangan sampai hanya bisa melahirkan manusia yang mampu bersaing dengan orang lain, tetapi harus juga dipikirkan dan diusahakan bagaimana menciptakan manusia yang pintar bekerjasama dengan sesama. Harus diingat bahwa masalah-masalah besar hanya akan selesai bila dikerjakan dengan kerjasama yang baik oleh banyak orang. Bila itu kita mulai sekarang, niscaya 20 tahun yang akan datang wajah bangsa ini pasti akan berbeda. Amin....

No comments:
Post a Comment