Saturday, May 2, 2009

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL; BENARKAH ?

Oleh : Drs. I Nyoman Purnajaya,M.Pd

Akhir-akhir ini istilah Sekolah Bertaraf Internasional semakin sering kita dengar baik dari kalangan dunia pendidikan maupun di masyarakat. Bahkan istilah itu cenderung berubah menjadi bahasa iklan yang digunakan oleh sekolah-sekolah untuk mempromosikan diri kepada para orang tua siswa yang sedang memilih sekolah bagi putra-putrinya. Sekolah-sekolah dengan kurikulum asing sering juga menyebut diri sebagai sekolah internasional. Pada hal sebenarnya sekolah-sekolah asing semacam ini berbeda dari sekolah bertaraf internasional atau yang lebih dikenal dengan SBI. Sebuah sekolah asing belum tentu merupakan sekolah bertaraf Internasional. Yang lebih membingungkan adalah sekolah-sekolah yang tidak menunjukkan karakter bertaraf internasional tetap menyebut diri sebagai sekolah bertaraf internasional. Di sisi lain masyarakat belum memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai tentang sekolah Bertaraf Internasional baik secara substansial maupun konstektual akibat dari kurangnya sosialisasi. Karena itu masyarakat perlu diberikan informasi yang jelas mengenai sistem persekolahan di negeri ini paling tidak dari tampakan masing-masing jenisnya.
Di Indonesia ada 2 jenis sekolah, yakni sekolah asing dan sekolah nasional. Sekolah asing adalah sekolah dengan tatacara dan kurikulum asing tetapi beroperasi di Indonesia yang diperuntukkan bagi warga negara asing tersebut seperti warga kedutaan, pekerja asing dan sebagainya. Sekolah nasional adalah sekolah dengan kurikulum nasional, baik yang diadaptasi dari sekolah bertaraf Internasional maupun tidak. Berdasarkan mutunya, sekolah nasional dibedakan menjadi 3 level. Standar mutu ini diperoleh melalui akreditasi dan evaluasi secara khusus. Ketiga kategori itu adalah: Sekolah Standar, Sekolah Kategori Mandiri (SKM) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI ). Masing-masing kategori memiliki variabel pembeda yang dapat dirasakan oleh para siswa yang mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Beberapa variabel juga terlihat secara kasat mata. Masyarakat kiranya perlu mengetahui variabel-variabel tersebut.
Pada tulisan ini pembicaraan akan difokuskan kepada sekolah Bertaraf Internasional dengan asumsi bahwa dua level sekolah sebelumnya telah ada di masyarakat selama ini. Secara kuantitatif dan kualitatif sebuah sekolah bertaraf Internasional memiliki beberapa acuan yang mudah dilihat dan dirasakan oleh masyarakat terutama oleh siswa. Acuan-acuan tersebut antara lain adalah : sekolah menerapkan kurikulum adaptasi Internasional (adapted curriculum), sekolah menerapkan pembelajaran dengan bahasa pengantar bahasa Inggris terutama pada bidang MIPA dan Bahasa Inggris (English Integrated to subject matter), menerapkan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ( ICT based learning) dan menerapkan management berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ( ICT based management). Sarana prasarana pembelajaran seperti laboratorium, perpustakaan, ruang pertunjukan, ruang multimedia dan jaringan intranet maupun internet tersedia secara lengkap dan berfungsi secara baik. Input siswa terseleksi secara baik , proses pendidikan berlangsung berimbang antara akademik dan non akademik , memiliki output berdaya saing tinggi secara nasional maupun internasional dalam perebutan bangku kuliah di Perguruan Tinggi serta sanggup memberi dan menerima akses secara internasional menggunakan media komunikasi mutakhir. Pembentukan rombongan belajar dan proses pembelajaran didasarkan atas teori-teori yang terbukti sukses di negara-negara maju serta adanya kolaborasi pendidikan secara internasional. Dengan kata lain sebuah Sekolah Bertaraf Internsional adalah sekolah yang telah memiliki standar lebih tinggi daripada sekolah pada level yang lain menyangkut 8 standar pendidikan nasional. Tentunya orang tua siswa harus merogoh kocek lebih tinggi untuk membiayai semua kelebihan ini dibandingkan dengan siswa pada sekolah level lainya. Bahkan pemerintahpun harus bersedia mengeluarkan anggaran lebih untuk memelihara sekolah-sekolah bertaraf internasional tanpa mengesampingkan peran sekolah pada level yang lain.
Selanjutnya, masyarakat terutama para orang tua siswa dapat bertanya kepada dirinya dan putra-putrinya yang bersekolah pada sekolah-sekolah yang berlabel Sekolah Bertaraf Internasional. Pertanyaan-pertanyaan utama yang perlu diajukan adalah : Apakah kurikulumnya diadaptasi dari kurikulum sekolah bertaraf Internasional ? Apakah Bahasa Inggris diintegrasikan ke dalam pembelajaran terutama pembelajaran MIPA ? Apakah sarana pembelajarannya lengkap atau tidak ? Apakah pembelajaran berbasis ICT? Apakah ada keseimbangan antara kegiatan kurikuler dan pengembangan diri ( ekstrakurikuler, pembinaan kepribadian dan lain-lain)? Apakah rombongan belajar dibentuk berdasarkan teori-teori pendidikan yang baik dan memperhatikan segi fisik dan psikis siswa? Apakah sebagian besar lulusannya diterima di Perguruan Tinggi Bermutu baik di dalam maupun di luar negeri ? Apakah sebagian besar lulusannya sukses dalam menempuh pendidikan lanjutan maupun menempuh kehidupan selanjutnya ? Apakah biaya pendidikan di sekolah tersebut lebih tinggi daripada sekolah -sekolah lainnya ? Jika hampir semua pertanyaan ini terjawab “ya”, berarti secara umum sekolah tersebut adalah sekolah Bertaraf Internasional. Sebaliknya bila hampir semua pertanyaan itu terjawab “tidak” maka berarti sekolah tersebut bukan Sekolah bertaraf Internasional meskipun memasang label sebagai Sekolah Bertaraf Internasional.
Secara mendetail Direktorat Jendral Pembinaan SMA telah menggunakan sekitar 200 indikator untuk mengetahui apakah sebuah sekolah merupakan sekolah sudah pada level sekolah bertaraf internasional atau belum. Namun tak semua indikator tersebut kasat mata bagi masyarakat umum dan memerlukan kemampuan lebih lanjut untuk mengkajinya. Beberapa pertanyaan di atas merupakan instrumen untuk melihat indikator paling depan dari sebuah sekolah bertaraf Intrnasional.
Dengan mengetahui secara substansial dan kontekstual makna apa yang terkandung di balik istilah Sekolah Bertaraf Internasional diharapkan masyarakat bersikap kritis secara proporsional dan terarah terhadap kegiatan pendidikan seiring semakin tingginya wawasan terhadap dunia pendidikan. Hal ini dapat menjadi sumbangan yang berharga bagi kemajuan dunia pendidikan di negeri ini. Masyarakat jangan asal bicara, asal usul. Kalau mau usul jangan sekedar asal.

No comments:

Post a Comment