Thursday, April 30, 2009

PROBLEMATIKA UJIAN NASIONAL DAN PENYELARASANNYA


Oleh : Drs. Purnajaya M.Pd

Problematika Ujian Nasional Sekolah Menengah tahun 2009.
Ujian Nasional bagi Sekolah Menengah di Indonesia bukanlah pertama kali dilakukan. Sejak negeri ini memproklamasikan kemerdekaan, Ujian Nasional telah dilakukan walaupun dalam bentuk yang berbeda-beda. Pelaksanaan Ujian Nasional ini memang pernah terhenti antara tahun 1972 sampai dengan tahun 1983. Sebab pada tahun-tahun itu Ujian akhir dilakukan oleh sekolah masing-masing yang dikenal dengan nama Ujian Sekolah. Namun pengalaman yang panjang melaksanakan Ujian Nasional pada masa lalu itu tentu dapat dianggap cukup bila digunakan untuk menelaah dan mengkaji pelaksanaannya secara keseluruhan, baik dari segi makna, tujuan, ketepatgunaan maupun inovasi yang harus dilakukan dalam rangka penyempurnaan. Hal ini menunjukkan bahwa Ujian Nasional dapat dipandang sebagai hal yang biasa dan waktu pelaksanaannya sudah dapat dipastikan sejak awal oleh setiap siswa.
Tetapi kenyataannya sampai pada pelaksanaanya yang kepuluhan kali Ujian Nasional belum dapat memenuhi ketepatgunaan secara baik. Pedoman pelaksanaan yang selalu berubah cendrung menimbulkan fakta bahwa belum adanya pertalian yang utuh antara Ujian Nasional dan program kurikulum yang sedang berlaku. Artinya program Ujian Nasional tidak merupakan bagian dari satu kesatuan yang utuh dalam kurikulum yang sedang berlaku saat ini, yakni KTSP yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bentuk paling transparan dari tidak adanya pertalian tersebut adalah digunakannya hasil Ujian Nasional sebagai faktor penentu kelulusan siswa tanpa dikombinasikan dengan komponen nilai lainnya pada sebuah mata pelajaran. Dari kenyataan ini muncul beberapa kontradiksi yang akhirnya menyebabkan Ujian Nasional itu menjadi kontra produktif. Kontradiksi-kontradiksi yang terjadi meliputi :
Pertama terjadi kontradiksi dengan konsep daya tampung sekolah. Dalam konsep daya tampung sekolah yang berlaku sekarang, jumlah siswa yang diterima tergantung pada daya tampung sekolah. Artinya rasio jumlah siswa yang melamar dan yang diterima sangat bervariasi. Bisa jadi kapasitas sekolah lebih besar dari pada jumlah siswa yang melamar di sekolah tersebut. Dalam hal ini semua siswa yang melamar akan diterima. Jadi seleksi terhadap mutu siswa baru di sekolah tersebut sama sekali tidak dapat dikendalikan. Siswa dengan kapasitas belajar yang rendah akan diterima juga. Kapasitas belajarnya rendah tak dapat dikembangkan terlalu jauh. Hal ini jelas akan membawa resiko tidak mampunya siswa tersebut dalam menguasai materi-materi yang diajarkan, yang secara langsung berimplikasi pada rendahnya daya serap siswa. Daya serap yang rendah akan mangakibatkan sedikitnya materi ajar yang dikuasai siswa secara akumulatif.
Bila dilakukan pengukuran dengan menggunakan cakupan kurikulum secara nasional sebagai acuan maka anak-anak semacam ini akan berada di daerah bawah. pada banyak pelajaran. Akibatnya mereka akan jatuh dan tak lulus ujian. Masyarakat pun memprotes atas dirasakannya kontradiksi ini.
Para politisi biasanya mengambil keuntungan pada keadaan ini untuk mengkritis bahkan mungkin menjatuhkan lawan-lawan politiknya.Timbullah kebijaksanaan-kebijaksanaan baru yang diargumentasikan lebih baik, lebih prediktif dan sebagainya.
Jadi karena kegunaan Ujian Nasional itu belum tepat maka perlu digeser kepada fungsinya yang proporsional sehingga keberadaannya bernilai positif bagai yang bekepentingan.
Kedua, kontradiksi dengan pemerataan kesempatan mengenyam pendidikan. Untuk saat ini konsep pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan telah sedikit bergeser dari konsep bahwa pendidikan yang diberikan harus disesuaikan dengan bakat dan minat, menuju konsep bahwa siapa saja dapat mengenyam pendidikan apa saja asalkan memiliki keinginan walaupun kapasitas belajarnya untuk itu masih diragukan. Hal ini menyebabkan banyak kalangan muda mengejar pendidikan tertentu yang bagi orang lain dapat meningkatkan derajat hidup dan status sosial, walaupun belum tentu demikian bagi dirinya. Hal ini juga bagian dari dominasi orang tua dalam hal memilih jenis dan jenjang pendidikan bagi putra-putrinya.
Kenyataan di atas akan menyebabkan tidak sesuainya antara bakat yang dimiliki siswa dengan jenjang jenis pendidikan yang dipilih. Akibatnya adalah mereka menempuh pendidikannya asal-asalan dan tidak maksimal.
Ketiga kontradiksi dengan kurikulum berbasis kompetensi. Dalam kurikulum berbasis kompetensi ditekankan adanya remidi bagi siswa-siswa yang belum tuntas . Setelah dikuasainya kompetensi tertentu maka ujian tak diperlukan lagi sebagai alat pengukuran kelulusan. Sebab nilai ketuntasan telah mencerminkan terkuasainya kompetensi tertentu. Dalam hal ini ujian Nasional seperti yang dilaksanakan dengan fungsi seperti tahun 2006 tidaklah tepat. Di samping mubasir juga tidak efisien dan tidak efektif.
Murid-murid yang dididik dengan konsep pendidikan dalam kurikulum berbasis kompetensi tidak tepat diuji dengan ujian model Ujian Nasional.
Ketidaktepatan ini telah menimbulkan berbagai ekses yang justru kontraproduktif dengan hakekat pendidikan. Beberapa hal kontraproduktif yang muncul sebagai respon terhadap target Ujian Nasional yang mematok nilai tertentu untuk bisa mengantongi Ijazah adalah :
Pertama, berbagai praktek kecurangan. Berbagai praktek kecurangan tersiar lewat media masa baik media cetak maupun elektronik sekitar pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2006. Pengguaan SMS untuk membagi-bagikan jawaban dari seorang joki kepada peserta ujian terjadi di mana-mana. Bahkan ada yang pelaksanaannya terorganisir dan mendapat ”legitimasi” dari pihak sekolah, karena bila banyak siswa-siswa yang tidak lulus maka akan dapat merusak citra sekolah.
Cara lain melakukan kecurangan yang juga muncul dalam ujian Nasional tahun 2006 adalah adanya negosiasi antara pihak sekolah dan pihak pengawas Ujian untuk memperlonggar pengawasan Ujian sehingga murid-murid dapat bekerjasama untuk menggolkan tujuan yakni bisa mendapatkan angka kelulusan yang tinggi dari sekolah tersebut.
Tentu masih banyak hal lain yang terjadi yang bertentangan dengan hakekat pendidikan. Karena pada hakekatnya pendidikan yang diterapkan di Indonesia khususnya merupakan bentuk nyata dari usaha untuk bisa lepas dari berbuat curang. Pendidikan agama, budi pekerti adalah bentuk-bentuk nyata dari usaha itu. Peningkatan kualitas moral peserta didik ditandai oleh berkurangnya frekuuensi perbuatan yang kurang baik dari para peserta didik. Tetapi ketidak mampuan sekolah dan komunitas pelajar dengan kapasitas belajarnya yang tidak memungkinkan akan melahirkan ide-ide aneh yang sebenarnya telah diketahui tidak baik bila ditinjau ukuran moralitas.
Dalam keadaan seperti ini Ujian Nasional menjadi menyeramkan, menjadi penyebab frustasi sekaligus penyebab munculnya praktek-pratek curang seperti jawaban diberikan oleh guru, siswa main sms, penggantian jawaban salah dari peserta oleh lembaga atau mungkin bentuk-bentuk kecurangan lainnya yang belum terungkap sampai saat ini. Hal ini sangat kontraproduktif dengan hakekat pendidikan yang pada dasarnya adalah pembentukan karakter peserta didik . Bila berbagai hal tidak terpuji menjadi bagian dalam proses pendidikan maka sudah dapat diduga karakter macam apa yang akan terbentuk di kemudian hari.
Kedua, masyarakat tidak puas terhadap kinerja lembaga pendidikan. Banyak anggota masyarakat yang mengekspresikan rasa kecewanya terdadap dunia pendidikan . Adanya siswa pintar bahkan sudah diterima di Perguruan Tinggi tidak lulus, sebaliknya siswa yang kurang pintar bisa lulus karena terjamah praktek kecurangan , telah menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Tidak ada yang rela dipersalahkan atas semua ini ? Semua pihak saling berdalih untuk melindungi kepentingan dan mencari logika pembenar perbuatan masing-masing. Tak apa-apa. Kita tidak sedang mencari siapa yang salah tetapi sedang mencari jalan keluar dari kesesatan ini. Karena itu kita akan mengkaji masalah ini baik dari sistem kurikulum yang berlaku maupun bagaimana posisinya dalam sistem pendidikan kita.

Penyelarasan Ujian Nasional Sekolah Menengah 2006 terhadap Progran Kurikulum Seutuhnya.
Ditinjau dari sudut kurikulum; SMP dan SMA saat ini sedang memberlakukan dua jenis kurikulum yakni Kurikulum 1994 untuk sebagian sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikulum 2004) yang saat ini menjadi kurikulum 2006 untuk sebagian lainya lagi. Pada kurikulum 1994 , kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi antara Nilai Ujian Nasional (NUAN) , Nilai Raport dan nilai ujian Nasional dengan menggunakan rumus tertentu berbentuk dengan P = Nilai Raport, Q = Nilai Ujian Sekolah dan R = nilai Ujian Nasional yang berikutnya diubah lagi menjadi pada tahun 2000. Proporsi tertentu antara pengaruh nilai Ujian Nasional dan nilai lokal akan tergambar pada besar kecilnya nilai n. Hal itu juga menunjukkan besarnya porsi otonomi sekolah dalam menentukan kelulusan para siswanya. Sedangkan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, secara teoritis kenaikan kelas dan kelulusan ditentukan oleh Ketercapaian Standar Ketuntasan Belajar Minimum di sekolah yang bersangkutan yang yang diukur oleh guru mata pelajaran bersama-sama dengan manajemen sekolah. Ketercapaian standar ketuntasan belajar minimum bermakna tingkat penguasaan kompetensi dasar yang ditunjuk. Pada skala yang lebih luas bermakna telah termilikinya kompetensi mata pelajaran dan kompetensi lulusan oleh seorang peserta didik.
Jadi dari kedua sistem kurikulum yang berlaku saat ini tak satupun yang melegitimasi otorisasi nilai Ujian Nasional sebuah mata pelajaran menentukan kelulusan bagi mata pelajaran tersebut. Hal ini dapat diartikan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2006 tidak efektif bila dikaji dengan pandangan keutuhan progran kurikulum.
Beberapa langkah perlu diambil untuk membuat pelaksanaan Ujian Nasional Sekolah menengah menjadi selaras dengan kurikulum yang sedang berlaku di antaranya :
Pertama, melakukan kaji ulang secara mendalam kurikulum yang sedang berlaku agar diketahui secara pasti model evaluasi yang diperlukan pada setiap cakupan evaluasi, baik untuk mengukur kompetensi mata pelajaran maupun kompetensi lulusan. Bila model evaluasi yang paling sesuai telah ditetapkan maka model itulah yang harus dijalankan, tak perlu diganti tanpa adanya hasil penelitian yang akurat yang menyatakan bahwa model tersebut mengandung kelemahan yang tak diperhitungkan sebelumnya.
Bila kita konsekwen dengan kurikulum yang sedang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan di sebuah lembaga pendidikan seperti SMP dan SMA saat ini maka kita akan dapat menempatkan dengan setepat-tepatnya posisi masing-masing komponen program pendidikan sehingga keberadaannya mendukung tujuan pendidikan , bukan justru merusaknya.
Baik pada kurikulum 1994 maupun pada sistem KBK Nilai UN sangat diperlukan untuk melihat posisi mutu seorang lulusan sebuah sekolah dari nilai standar secara nasional. Tetapi nilai Ujian Nasionalnya bukan untuk menentukan kelulusan seorang siswa dari lembaga SMP atau SMA tersebut. Nilai Ujian Nasional dapat digunakan melihat stndar pendidikan kita secara nasional, ketidak merataan mutu pendidikan di berbagai daerah sehingga program pengembangan pendidikan di masing-masing daerah dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Kedua, meneliti sebab-sebab dan akibat-akibat dari permasalahan yang muncul dari pelaksanaan Ujian Nasional baik yang telah mengemuka pada tahun 2006 ini maupun yang berpotensi muncul pada tahun yang akan datang bila arah, tujuan dan efektivitas pelaksanaan Ujian Nasional tidak dimodifikasi. Dan disesuaikan dengan kebutuhan berbagai konsep dan program yang terintegrasi dalam pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku.

Penyelarasan Ujian Nasional terhadap program wajib belajar
Telah disadari oleh bangsa Indonesia bahwa program wajib belajar mempunyai tujuan yang luas dan sangat penting. Mengentaskan berbagai kebutaan bagi setiap warga negara akan membuka wawasan bangsa terhadap berbagai khasanah ilmu pengetahuan yang tak dapat dinikmati oleh seseorang yang buta aksara.
Sisi negatif dari program wajib belajar ini adalah adanya unsur pemaksaan kepada warga negara terutama terhadap mereka yang tidak berniat mengenyam pendidikan dan mereka yang tak mempunyai kapasitas belajar yang memadai. Pemaksaan terhadap mereka yang masuk katagori pertama akan menciptakan pelajar yang tak serius dalam belajar, sehingga tak mampu mencapai target yang ditetapkan oleh kurikulum yang sedang berlaku. Sementara pemaksaan terhadap mereka yang termasuk dalam katagori kedua akan menciptakan siswa-siswa yang cendrung tidak dapat naik kelas dan tak dapat lulus bila aturan kurikulum diterapkan secara tegas. Kedua kelompok ini berada pada ekor kiri kurva normal.Mereka yang berada pada kelompok ini sangat sulit mencapai nilai standar yang ditetapkan dalam Ujian Nasional. Karena keberadaan mereka pada jenjang itu semata-mata karena program yang mewajibkan mereka berada di sana. Karena itu sistem Ujian Nasional yang berlaku sekarang harus diselaraskan dengan dengan program wajib belajar.
Cara yang dapat ditempuh dalam rangka penyelarasan ini adalah mengganti fungsi Ujian nasional dari alat untuk mengatur kelulusan menjadi alat standari penamatan. Artinya mereka yang telah mencapai ketuntasan dalam proses belajar mengajar dapat menamatkan pendidikannya. Sementara itu hasil ujian Nasional akan menunjukkan standar kelulusan mereka bila dilihat secara nasional. Hal ini akan berguna bagi pasaran kerja untuk memilih calon-calon pekerja dengan tingkat kompetensi yang diinginkan oleh pasar kerja. Dengan cara seperti ini maka negara dapat melaksanakan tugasnya, sementara generasi bermutu akan lahir secara alami.

Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat ditarik beberapa simpulan yaitu :
1. Ujian Nasional tetap diperlukan baik untuk melihat perbedaan mutu antara seorang lulusan dan lulusan lainnya dalam sebuah lembaga , melihat perbedaan mutu antara satu lembaga pendidikan dengan lembaga lain yang sejajar maupun untuk mengukur kemajuan dunia pendidikan secara nasional.
2. Ujian Nasional yang kita laksanakan saat ini belum tepat guna sehingga menimbulkan berbagai masalah baru antara lain kontradiksi dengan konsep wajib belajar, kontradiksi dengan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan maupun kontradiksi dengan program dalam kurikulum yang sedang berlaku, yang dapat menyesatkan peserta didik, lembaga pendidikan ke dalam berbagai hal yang kontraproduktif dengan hakekat pendidikan.
3. Kita belum menerapkan sebuah sistem pendidikan secara utuh, komprehensif dan otoriter ( tidak diintervensi oleh kepentingan lain ), sehingga sering timbul ketimpangan antar komponen pendidikan.
4. Pelaksanaan Ujian Nasional yang perlu diselaraskan kembali dengan berbagai konsep fundamental yang sudah ada seperti konsep wajib belajar, konsep pemerataan kesempatan menperoleh pendidikan dan konsep-konsep lain yang terdapat dalam kurikulum yang sedang berlaku.
Saran
Dengan mengacu kepada kesimpulan yang ditarik , maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Agar pemerintah tetap melaksanakan Ujian Nasional untuk dijadikan bahan perbandingan kemajuan pendidikan antar peserta didik , perbandingan mutu antara satu sekolah dengan sekolah lainnya bahkan untuk meperbandingkan tingkat kemajuan pendidikan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya di Indonesia.
2. Agar penentuan kelulusan atau kenaikan kelas disesuaikan dengan apa yang diatur secara integrasi dalam kurikulum. Konsep evaluasi pendidikan agar dipandang sebagai bagian terintegrasi dengan kurikulum sehingga pelaksanaannya tak menimbulkan kontradiksi dengan berbagai konsep yang sudah ada di dunia pendidikan kita.
3. Agar lembaga pendidikan maupun peserta didik membiasakan pelaksanaan proses evaluasi yang semakin objektif dan jujur untuk membentuk karakter yang baik para lulusan.
4. Agar kita mulai menerapkan sistem pendidikan yang utuh, komprehensif dan otoriter, sehingga terdapat keselarasan di antara berbagai komponen yang secara simultan menentukan arah langkah, tingkat ketercapaian tujuan pendidikan.

ADA APA DENGAN MATEMATIKA DI SEKOLAH ?


Oleh : Drs. I Nyoman Purnajaya,M.Pd


Selama ini pelajaran matematika masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar siswa. Lebih dari separuh siswa punya kesan tidak menyenangkan terhadap pelajaran matematika. Sementara itu pembelajaran matematika di sekolah lebih banyak bersifat mengalir begitu saja sesuai dengan instink guru sebagaimana halnya juga pelajaran yang lain. Teori-teori pembelajaran yang diperoleh di bangku kuliah , melalui penataran penyegaran maupun berbagai workshop, belum banyak diaplikasikan di kelas oleh para guru. Akhirnya pembelajaran menjadi sebuah rutinitas panjang yang membuat para siswa menjadi jemu dan tak partisipatif. Belum lagi heterogenitas kelas yang sangat tinggi, menyebabkan sebagian besar siswa tak pernah punya kesempatan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran bahkan selama mereka menjadi siswa. Gurupun pada umumnya tak begitu mempedulikannya. Toh beberapa siswa yang pintar pada bidang ini telah membuat suasana kelas seperti benar-benar hidup tanpa cacat. Akibatnya, sebagian siswa benar-benar masuk ke kelas untuk menambah stres dan bukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Padahal telah diketahui bahwa kelas-kelas yang dikelola secara sembrono oleh guru akan menurunkan prestasi siswa secara keseluruhan pada mata pelajaran yang diampunya. Karena itu dalam pembelajaran di kelas seorang guru (dalam hal ini guru matematika) setidak-tidaknya harus mempertimbangkan variabel-variabel dominan seperti : dimenasi kesulitan belajar siswa dan pengelolaan proses pembelajaran.
Pada kenyataannya hampir semua kesulitan belajar siswa dalam bidang matematika berada pada empat dimensi utama berikut : (1) Siswa tidak mengenal fakta atau tidak mengetahui apa arti sebuah simbol matematika. Hal ini dapat terjadi karena saat menuliskan simbul tersebut guru tidak memberikan penekanan yang cukup kuat atau guru mungkin menggunakan berbagai simbul yang berbeda-beda untuk sebuah tujuan. Sangatlah penting konsistensi guru dalam penggunaan simbol matematika untuk sebuah maksud terutama di awal-awal mempelajari sebuah topik. Hal ini akan sangat membantu siswa melakukan pembelajaran yang lebih tinggi tingkatannya. Bila guru sudah konsisten menggunakan simbol tetapi beberapa murid masih mengalami kesulitan maka pastilah sumbernya adalah siswa malas menghafal karana bagian ini merupakan sisi menghafal dan mengingat dalam pelajaran matematika. (2) Siswa tidak memahami konsep. Pada tingkat ini siswa tak tahu batas-batas pengertian sebuah konsep sebagai akibat dari tak sempurnya proses generalisasi yang dialami siswa. Kesulitan memahami konsep ini akan tampak sebagai kesulitan siswa untuk membedakan antara hal yang merupakan contoh dan bukan contoh tentang sebuah nama, seperti persegipanjang, jajaran genjang, lingkaran dan lain-lain. (3) Siswa tak memahami prinsip atau hubungan antar komponen logika. Bentuk nyata dari kesulitan ini adalah siswa tak dapat mengunakan rumus-rumus matematika dengan benar. Hal ini bersumber pada tidak sempurnanya proses analisis dan sintesis pada saat rumus-rumus tersebut terbentuk melalui proses pembelajaran. (4) Siswa tak memiliki skill atau tidak terampil mempermainkan logika. Hal ini terjadi karena siswa jarang latihan. Bentuk paling nyata dari kesulitan ini adalah siswa tidak dapat memecahkan persoalan yang jenisnya berbeda dari yang pernah dijumpai sebelumnya. Kesulitan yang terakhir ini dapat dialami oleh siswa yang sangat cerdas sekalipun. Kesulitan ini dapat diatasi dengan meningkatkan motivasi belajar para siswa.
Aspek kedua yang memegang peran dalam membangun prestasi matematika siswa adalah pengelolaan pembelajaran. Kelas yang heterogen akan menyebabkan persaingan tak seimbang di antara para siswa. Siswa yang berkemampuan tinggi cenderung mendominasi kelas. Sementara itu, siswa yang berkemampuan rendah, berada dalam proses mengendapkan stres ke alam bawah sadarnya sebagai akibat perasaan tak mampu dan tak mendapat kesempatan untuk mengaktualisasi diri.
Apa hasilnya ? Di satu sisi akan lahir orang-orang yang hanya selalu ingin menguasai orang lain, egois dan sombong. Pada sisi lainnya akan lahir orang-orang yang memusuhi orang pintar dan membenci orang-orang arif. Hal ini terbentuk secara tidak disadari di sebuah kelompok yang kecil yang kita sebut kelas belajar. Fakta-fakta yang kita lihat saat ini seperti buruh mendemo majikan atau pembantu membunuh majikan, rakyat mendemo pemimpin dengan cara-cara anarkhis bisa jadi merupakan hasil sebuah proses panjang yang sudah dimulai sejak 20 atau 30 tahun sebelumnya.
Kenyataan ini harus segera distop. Pembentukan kelompok-kelompok kelas belajar yang relatif homogen perlu menjadi pertimbangan utama di sekolah. Hal ini sangat penting agar semua siswa punya kesempatan dan keberanian yang setara untuk berpartisipasi dalam pembelajaran yang pada akhirnya akan membawa mereka mampu bekerja sama secara baik dalam kehidupan selanjutnya. Guru juga akan mudah memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kelas.
Membangun prestasi harus dimulai dari membangun kesempatan yang lebih luas bagi para siswa untuk merasa berharga dan merasa berguna. Dengan merasakan bahwa kehadirannya berguna, seorang akan mempunyai semangat untuk mengaktualisasikan diri. Membangun kompetisi di antara dua kelompok berimbang akan menciptakan dua kemampuan penting pada para siswa yakni kemampuan berkompetisi secara adil dan meyenangkan dan kemampuan bekerjasama. Pelajaran matematika, diakui atau tidak sampai saat ini dan mungkin sampai nanti paling sering dijadikan tolok ukur oleh para orang tua siswa di rumah , oleh masyarakat dan oleh dunia pendidikan. Karena itu andilnya untuk menciptakan kesenjangan keshidupan kejiwaan di antara para siswa juga paling besar. Sekolah perlu waspada , jangan sampai hanya bisa melahirkan manusia yang mampu bersaing dengan orang lain, tetapi harus juga dipikirkan dan diusahakan bagaimana menciptakan manusia yang pintar bekerjasama dengan sesama. Harus diingat bahwa masalah-masalah besar hanya akan selesai bila dikerjakan dengan kerjasama yang baik oleh banyak orang. Bila itu kita mulai sekarang, niscaya 20 tahun yang akan datang wajah bangsa ini pasti akan berbeda. Amin....

Wednesday, April 29, 2009

Research Abstract in Education Program Evaluation

THESIS
ABSTRACT

Purnajaya, I Nyoman (2008). Program Implementation Evaluation of SMA Negeri 1 Denpasar Quality Improvement Program to International Level School, Thesis, Program Study of Research and Education Evaluation, Magister Program, Pendidikan Ganesha University Singaraja.

This thesis has supervised and corrected by :
Prof. Dr. I Wayan Koyan, M.Pd
Dr. Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni, MA.

Keyword:
Program Evaluation, Senior High School Quality Improvement, International Level School.
The Quality Improvement Program to International Level School in SMA 1 Denpasar is expected effective to improve the education quality in this school, but there is no scientific and authentic evidences yet which show this expectation has satisfied. So the aim of this research is to evaluate the effectiveness of Quality Improvement Program of SMA 1 Denpasar to International Level School. Program evaluation model used is CIPP which’s evaluates a program from context, input, process and output sides.
There are three main problems that will be solved throughout this research, are that : how is the SMA 1 Denpasar community insight about the Quality Improvement Program of SMA 1 Denpasar to International Level School?, what is the level of program implementation related to some parts of the program ? and is there different level of both mathematics and science achievement between the students who follow teaching-learning process in international program and the students in conventional program ?
Data collecting method used in this research are interview, observation, documents record and test. Interview is used to collect data about School community insight of Quality Improvement Program of SMA Negeri 1 Denpasar, Observation and document research for data of program implementation and test is used for data of students achievement. To analyze this collected data used suitable method regarding data types collected, are that : qualitative descriptive analysis for interview results , quantitative descriptive analysis for the data of observations and documents record and statistics analysis with one raw ANACOVA test for data of students achievement.
The result of data analysis show that the school community have relevant insight with basic concept of School Development and Investment Plan to International level School, the level program implementation is high in general and the program proved effective to improve students achievement especially in sciences and mathematics subjects. This fact is shown by the result of ANACOVA test which given F = 12,9 so far larger than critical value of F = 4,09 for level of significant 5% and 7,08 for level of significant 1%. This can be interpreted that the students achievement in science and mathematics who follow teaching and learning process in international program is different significantly from the achievement of students who follow the teaching-learning process in conventional program for the same subject. Objective achievement of the students in international program is better than the achievement of students in conventional program.
As implication of the conclusion we recommend the following thing : this program is reasonable to be continued, this program still need to be improved on some of it part which haven’t run effectively and it’s need to be evaluated continuously so every progress and every handicap is known exactly and earlier.

Friday, April 24, 2009

MEDITATION


Session 1 - Mind, Mantra and Meditation
You are the luckiest because of open this blog. This writing is presented to conduct everyone who want to practise meditation so they can practise better and directionally. The course is a series of 8 sessions. You'll receive one every 7days. Now for the first session!
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Meditation means to look within yourself for infinite happiness;perfect peace and contentment. And yoga means "to unify." It's theholistic approach to all aspects of life: physical, mental andspiritual. There's been a popular misconception that yoga only meansthe physical postures. In fact, it's a whole lifestyle that includesyoga postures as one of its many components. Yoga is a comprehensive,scientific and practical system, and its main technique - meditation- leads to what we call self-realization: the full experience ofinfinite peace and happiness.Ready to try it?
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%*
Find a comfortable place on the floor and sit with your legscrossed. Place your hands one on top of the other in your lap, keepyour back straight, eyes closed and tongue on the roof of your mouth.Your breathing should be calm and relaxed, through the nose. Spend aminute or so concentrating on your breath, feeling the air flowingthrough your nostrils.* Now imagine that you're sitting in the most peaceful place you canthink of. Feel that you're sitting there in complete peace. Nowimagine that infinite happiness is surrounding you in everydirection. Feel you're completely surrounded by that infinite peaceand happiness. Now start to repeat within your mind the followingmantra: BABA NAM KEVALAMBaba means "beloved". It refers to your deepest self: the SupremeSelf, the source of infinite peace and happiness. Nam means "name" or"to identify with", and Kevalam means "only". So the mantra means"Only my Beloved". Think of the meaning as you're repeating it, andfeel the infinite peace and happiness all around you and within you.Continue for as long as you like, then open your eyes.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
"You are never alone or helpless.The force that guides the stars guides you too.
"Shrii Shrii Ankamumurti"
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Don't worry if you have trouble concentrating - that's normal. Ittakes some time and practice to be able to focus on the one thought.The main thing is to keep practicing.You can meditate any time, but the best times are in the morningbefore breakfast, and in the evening before dinner.Try to find a quiet, out-of-the-way place where nobody will disturbyou - a separate room, a corner of your bedroom, a peaceful spot inthe garden.Sit on a blanket or mat, and keep it only for your meditation. If youhave trouble sitting cross-legged, put some more cushions under youso your backside is higher off the ground. That will take some of thepressure off your legs, and help keep your back straight. Avoidresting your back against the wall - you may get too relaxed toconcentrate.Try repeating the mantra throughout the rest of the day, singing itif you like. That will give you a continual feeling of lightness andhappiness, and make it easier to meditate.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Now it's really important that you spend the next three days gettingused to the meditation technique. Practice twice a day - in themorning and in the evening - and really try and tap into the flow ofthe ideation. It is difficult to concentrate at first, but this isthe time when it's crucial to stick with it and try and get a bit ofconcentration. As time goes on it will get a lot easier, but if yougive up now you'll never get to that stage.
PELAJARAN MEDITASI ( Indonesia )
Anda adalah orang yang beruntung karena telah membuka blog ini. Tulisan tentang pelajaran meditasi ini dihadirkan untuk membimbing siapa saja yang mencoba belajar bermeditasi agar dapat melakukan praktek dengan lebih baik, praktis dan terarah. Pelajaran meditasi ini dibagi atas 8 sesi dan setiap sesi akan diberikan setiap 7 hari. Pembaca juga bisa berkomunikasi kepada penulis bila mengalami hambatan dalam mempraktekkan petunjuk yang diberikan ini. Mari kita mulai dari sesi 1

Sesi 1 – Pikiran, Mantra dan Meditasi

Meditasi berarti mencari ke dalam diri sendiri kebahagiaan yang tak terbatas, kedamaian yang sempurna dan ketakterbatasan ketenangan. Yoga berarti menyatukan. Merupakan pendekatan menyeluruh menyangkut semua aspek kehidupan ( pisik, mental dan spiritual ). Telah terjadi kesalahan konsep yang umum bahwa yoga hanya berarti olah pisik. Sebenarnya yoga menyangkut semua aspek dimana di dalamnya olah fisik sebagai salah satu dari sekian banyak komponen. Yoga adalah menyeluruh, ilmiah, praktis dan teknik intinya – meditasi – akan menuntun kamu menuju apa yang kita sebut sebagai realisasi diri : yakni pengalaman tentang kedamaian dan kebahagiaan tak terbatas.

Siap untuk mencoba ?
Carilah sebuah tempat yang nyaman di lantai dan duduklah bersila. Taruh satu tangan kamu di atas telapak tangan yang lain menghadap ke atas di pangkuan. Luruskan punggung, tutup mata, lidah pada langit-langit mulut. Kendorkan pernafasan, semakin lama semakin pelan dan bernafas melalui hidung. Gunakan beberapa menit untuk benkonsentrasi pada pernafasan kamu dengan jalan merasakan keluar masuknya udara melalui lobang hidung kamu.
Sekarang bayangkan bahwa kamu duduk pada sebuah tempat yang penuh kedamaian semampu kamu memikirkan. Bayangkan bahwa kamu duduk dengan penuh kedamaian. Bayangkan bahwa kebahagiaan tak terbatas mengelilingi kamu dari semua arah. Bayangkan diri kamu benar-benar dikelilingi penuh kedamaian dan kebahagiaan.


Mulailah dengan mantra dalam hati BABA NAM KEVALAM


Baba berarti terkasih . Itu mengarah kepada bagian terdalam diri kamu yaitu pusat dari kedamaian dan kebahagiaan tanpa batas. Nam berarti nama yang diidentifikasi dan Kevalam berarti hanya. Sehingga mantra itu berarti hanya untuk terkasihku. Pikirkan makna ini sementara kamu mengulangi mantra ini dan rasakan kedamaian dan kebahagiaan tak terbatas memenuhi sekeliling dan diri kamu. Teruskan selama mungkin kamu menyukai ,kemudian.... buka mata kamu.

Kamu tak akan pernah sendirian atau tanpa pertolongan.
Sebuah kekuatan akan menuntun bintang-bintang membimbing kamu.
“Shrii Shrii Ankamumurti”

Jangan khawatir sekamuinya kamu susah berkonsentrasi, itu normal. Itu akan memakan waktu beberapa saat dan lakukan sampai kamu mampu terpusat pada satu pikiran. Hal terpenting adalah selalulah melakukan.
Kamu dapat bermeditasi setiap saat tetapi waktu terbaik untuk melakukan meditasi adalah pagi sbelum sarapan dan petang sebelum makan malam.
Cobalah mencari tempat yang sepi, bebas dari lalulalang sehingga tak ada yang mengganggu kamu; sebuah ruangan terpisah, pojok kamar tidur atau pojok taman yang sepi.
Duduklah di atas selimut atau kasur dan gunakan ini secara pribadi hanya untuk bermeditasi. Bila kamu punya masalah dengan duduk bersilamu, taruhlah beberapa alas tambahan di bawah sehingga pantatmu berada lebih tinggi dari lantai atau tanah. Ini akan menahan tekanan terhadap kaki kamu dan akan menjaga tulang punggung kamu tetap lurus. Hindari menykamurkan punggung kamu ke tembok, bisa jadi akan membuat kamu terlalu santai untuk berkonsentrasi.
Cobalah selalu mengulang-ulang mantra pada setiap waktu senggang kamu, lagukan bila kamu suka. Itu akan memberi kamu perasaan terus-menerus bercahaya dan berbahagia, dan membuat kamu lebih mudah bermeditasi.
******************************************************************************************************************
Sekarang benar-benar perlu bagi kamu untuk menggunakan tiga hari kedepan untuk menggunakan teknik meditasi. Praktekkan duakali sehari ; pagi dan sore dan benar-benar mencoba menuju aliran ideasi. Sukar berkonsentrasi pada awalnya tetapi ini merupakan waktu untuk mencambuk diri untuk mendapatkan konsentrasi. Bila waktu yang sulit ini kamu lalui maka kamu akan mendapatkan kemudahan tapi jika kamu menyerah kamu tak pernah mendapatkan kesempatan ini.

Thursday, April 23, 2009

SERTIFIKASI GURU ; EFEKTIFKAH MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN ?



SERTIFIKASI GURU ; UNTUK APA ?
Oleh : Drs. I Nyoman Purnajaya,M.Pd


Guru adalah ujung tombak dalam perang suci melawan kebodohan. Untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan berkualitas maka guru harus ditingkatkan kualitasnya terlebih dulu. Pada era ini cara khusus yang digagas oleh pemerintah adalah sertifikasi guru. Guru-guru akan dinilai tingkat profesionalismenya dengan 10 kriteria yang dianggap sangat representatif yaitu (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti, (3) pengalaman mengajar guru, (4) kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian oleh atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik guru , (7) karya pengembangan profesi, (8) keterlibatan dalam forum-forum ilmiah, (9) pengalaman menjadi pengurus organisasi pada bidang pendidikan dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yang pernah diterima. Cukup ideal dan mantap! Guru-guru yang memenuhi syarat sebagai guru profesional akan mendapat sertifikat guru profesional. Mereka ini akan diberi tunjangan profesi setiap bulan sebesar satu kali gaji sehingga secara keseluruhan penghasilan seorang guru profesional akan mencapai 4 sampai 5 juta sebulan. Hal ini penting agar guru yang potensial tidak lagi memikirkan isi perutnya. Pada sisi lain guru yang belum memenuhi syarat akan berusana meningkatkan diri. Itulah teori yang sangat baik dan benar, yang diharapkan akan membawa bangsa ini menjadi intelek, bermartabat dan besar.
Sejujurnya, ketika mendengar ide itu sekitar 4 tahun yang lalu, hati ini bergetar, terbayang ada susu setiap pagi yang bisa diminum oleh anak-anak dan ibunya, cicilan hutang di koperasi sekolah akan segera dapat dilunasi tanpa beban. Tentu tak semua guru akan bisa bernasib seperti ini. Sebab syaratnya cukup berat terutama bagi guru-guru yang tak pernah serius bertugas, malas masuk sekolah atau yang terkontaminasi masalah-masalah lainnya. Tetapi guru-guru yang memiliki kemampuan dan dedikasi tinggi pasti akan lolos. Para pelajar SMA yang pandai-pandai akan tertarik untuk menjadi guru. Fakultas-fakultas keguruan akan kebanjiran mahasiswa. Guru-guru akan bangga ketika menyebut pekerjaannya sebagai guru saat berkenalan dengan orang lain. Pokoknya....
Tetapi apa kenyataannya? Sungguh di luar dugaan. Ide peningkatan kualitas pendidikan ini sedikit-demi sedikit bergeser menjadi ide penghargaan terhadap pengabdian guru, sehingga guru-guru yang sudah lama bertugas karena diantarkan oleh usia tua, hampir pensiun, sakit-sakitan, jarang ke sekolah dan berbagai gejala usia tua lainnya; itulah yang harus didahulukan sebagai pemberian penghargaan. Itu yang harus dilakukan kalau bangsa ini tak ingin kualat karena berani kepada orang yang lebih tua. Kecewalah yang lebih muda, yang lebih potensial dan yang lebih berprestasi. Tetapi demi rasa hormat dan martabat sebagai guru, mereka yang muda dan yang berprestasi tetap diam. Kemudian yang tua yang berusaha, yang berhasil lulus uji sertifikasi dengan berbagai usaha, yang pensiun dan akhirnya yang belum menikmati tunjangan profesional sampai pensiun. Pada hal mereka telah mengorbankan tenaga dan waktu di samping juga sudah mengeluarkan biaya. Kasihan, yang tua juga kecewa. Akhirnya guru yang muda dan yang tua sama-sama merenung. Bertanya dalam diri masing-masing. Apa ini sesungguhnya ? Rencana ? Janji ? Atau hegemoni politik dari...?
Tidak selesai sampai di situ. Para calon Bupati, calon Gubernur hampir di semua daerah di Indonesia belakangan ini semakin getol mengumandangkan nyanyian politik yang berjudul Pendidikan Gratis sebagai bentuk janji keberpihakan mereka kepada rakyat miskin. Hal yang justru sangat bertentangan dengan logika bahwa biaya pendidikan akan meningkat jika tunjangan profesional guru dibayarkan pada satu sisi sementara itu kemampuan pemerintah memberi dukungan dana di luar gaji akan menurun pada sisi lainnya.
Dari realita ini lahirlah dua multiple efect.
Pertama; perlu kewaspadaan yang semakin meningkat bagi kita yang “dimasyarakatkecilkan” atau “dirakyatmiskinkan” untuk tidak tergiur kepada janji-janji irasional bila diukur dari fakta kehidupan karena hal ini dapat menyesatkan bangsa ini ke depan.
Kedua; telah dan akan terjadi pemborosan negara karena ide peningkatan mutu pendidikan melalui sertifikasi guru telah bergeser arah ke sasaran yang semakin tidak jelas dan tidak produktif, yang pada akhirnya tak akan pernah sampai ke sasaran yang ingin dicapai yakni meningkatnya mutu pendidikan Indonesia.
Untuk permasalahan ini, solusi yang dapat diambil adalah: (1) kembalikan ide sertifikasi guru ke gagasan awal yakni peningkatan kualitas pendidikan ; dengan menerapkan undang-undang dan peraturan-peraturan penyertanya secara murni dan konsekwen dalam arti tak berpihak kepada kepentingan dan pemikiran lain. (2) Kiranya masyarakat perlu beramai-ramai mengabaikan para politikus yang dalam kampanye menyampaikan gagasan-gagasan irasional dan tak mungkin dilaksanakan seperti pendidikan gratis bagi semua masyarakat. Masyarakat akan sadar bahwa terbuai oleh janji-janji itu akan membawanya kepada rasa malu dan merasa bodoh. Sesungguhnyalah bahwa nothing really free in the world.
Pendidikan untuk menuju kesempurnaan jiwa dan kesehatan untuk menuju kesejahtraan badan harus diusahakan oleh jiwa dan badan tersebut karena dialah yang paling mengerti apa sesungguhnya diperlukan untuk mencapai kesempurnaan tersebut. Begitu pun pada sisi kehidupan lainnya.
Manusia harus kembali kepada tugasnya masing-masing. Para pemimpin bertugas mengatur agar tak terjadi tabrakan kepentingan dalam mencapai tujuan kehidupan rakyatnya. Para ekonom bertugas memikirkan biaya yang diperlukan dan para arif bijaksana berkewajiban menunjukkan jalan yang harus ditempuh agar sampai kepada tujuan. Tetapi di negeri yang kita cintai ini, siapakah pemimpin sejati itu, siapakan ekonom sejati itu dan siapa kaum arif bijaksana sejati ? Dapatkan kita menemukan mereka? Membedakan satu dengan lainnya ? Bahkan dapatkan kita menbedakan yang asli dan yang palsu? Hanya para pembaca yang budiman sendiri yang dapat melakukannya.

Purnajaya dan Rsi Bisma

Tak banyak yang kutahu tentang kelahiranku di sebuah desa di pedalaman pulau Bali bernama Desa Jelijih. Kata ayahku aku lahir pada 23 Desember 1958. Dorongan yang tak kumengerti asalnya untuk keluar dari kampung ini mencari dunia baru telah membawaku menjadi orang terpelajar pertama yang lahir di kampung ini. Pada mulanya aku tak mengerti makna dorongan dalam diri ini? Apa makna kepintaran yang dititipkan Tuhan kepadaku ?. Tapi kini aku paham bahwa aku memang dibimbing ke jalam kehidupan berbeda dari teman-teman masa kecilku. Mereka hidup damai sebagai petani, tak terdera kompetisi kehidupan , tak punya target yang muluk-muluk seperti kehidupan kota tempatku menetap sekarang yakni Denpasar. Sementara aku terus berjuang , berangkat dari capaian yang satu ke capaian yang lain. Dari prestasi tertentu ke prestasi lainnya. Tak bisa berhenti, tak boleh lelah, karena lelah berarti kalah. Kini aku telah menjadi sedikit tua, sedikit bijaksana, sedikit tidak malu bila orang-orang memanggilku pak guru. Walaupun aku tahu aku adalah guru yang tak ubahnya seperti Rsi Bisma, yang sebentar lagi akan terlentang berkasur panah, karena tak kuasa menghentikan murid-muridnya menelanjangi kerahasiaan Drupadi, menodai kesucian tanah Astina. Ahh..., akankan Arjuna memahami penderitaan gurunya ini ? Akankah Destrarata menghentikan ambisi Duryodana menguasai Jagat ini ? Ahh.. waktu pasti menjawab semuanya.