Thursday, April 23, 2009
Purnajaya dan Rsi Bisma
Tak banyak yang kutahu tentang kelahiranku di sebuah desa di pedalaman pulau Bali bernama Desa Jelijih. Kata ayahku aku lahir pada 23 Desember 1958. Dorongan yang tak kumengerti asalnya untuk keluar dari kampung ini mencari dunia baru telah membawaku menjadi orang terpelajar pertama yang lahir di kampung ini. Pada mulanya aku tak mengerti makna dorongan dalam diri ini? Apa makna kepintaran yang dititipkan Tuhan kepadaku ?. Tapi kini aku paham bahwa aku memang dibimbing ke jalam kehidupan berbeda dari teman-teman masa kecilku. Mereka hidup damai sebagai petani, tak terdera kompetisi kehidupan , tak punya target yang muluk-muluk seperti kehidupan kota tempatku menetap sekarang yakni Denpasar. Sementara aku terus berjuang , berangkat dari capaian yang satu ke capaian yang lain. Dari prestasi tertentu ke prestasi lainnya. Tak bisa berhenti, tak boleh lelah, karena lelah berarti kalah. Kini aku telah menjadi sedikit tua, sedikit bijaksana, sedikit tidak malu bila orang-orang memanggilku pak guru. Walaupun aku tahu aku adalah guru yang tak ubahnya seperti Rsi Bisma, yang sebentar lagi akan terlentang berkasur panah, karena tak kuasa menghentikan murid-muridnya menelanjangi kerahasiaan Drupadi, menodai kesucian tanah Astina. Ahh..., akankan Arjuna memahami penderitaan gurunya ini ? Akankah Destrarata menghentikan ambisi Duryodana menguasai Jagat ini ? Ahh.. waktu pasti menjawab semuanya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment